PTK SIMULASI
PENINGKATAN HASIL DAN AKTIVITAS BELAJAR PKn MATERI KEDAULATAN RAKYAT DALAM SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA DENGAN METODE SIMULASI PADA SISWA KELAS VIII E SMP NEGERI 1 CANDIMULYO MAGELANG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Suhardi *)
mashardi1972@gmail.com
Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIIIE SMP N 1 Candimulyo Magelang. Penelitian ini terdiri atas dua siklus, setiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi. Hasil analisis data tersebut adalah sebagai berikut: (1) Persentase hasil belajar PKn setelah dikelompokkan menjadi 4 kategori pada siklus I yaitu baik sekali 6,25%, baik 46,88%, cukup 40,42% dan kurang 6,25%, dengan nilai rata-rata 71,53 (2) Persentase hasil belajar PKn setelah dikelompokkan menjadi 4 kategori pada siklus II yaitu baik sekali 56,25%, baik , cukup 28,13%, cukup 15,62% dan kurang 0% dengan nilai rata-rata 83,50 (3) Aktivitas siswa yang bersifat positif seperti mendengarkan penjelasan guru, bertanya, menjawab atau menanggapi pertanyaan, menghormati pendapat teman, bekerjasama dalam kelompok, membaca buku paket atau materi, mengalami peningkatan persentase dari setiap siklus. Aktivitas yang bersifat negatif seperti belajar pelajaran lain, mengganggu teman, dan keluar masuk kelas, mengalami penurunan persentase dari setiap siklus. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode simulasi dalam pembelajaran langsung meningkatkan hasil belajar PPKn siswa kelas VIIIE SMP Negeri 1 Candimulyo, dari nilai rata-rata 72,34 menjadi 74,69.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Aktivitas, Metode Simulasi.
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah dan Zain, 2006:37).
Proses pembelajaran PKn di Kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo, kebanyakan masih mengunakan paradigma yang lama di mana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal. Akhirnya yang terjadi kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran PKn.
Akibatnya nilai akhir yang dicapai siswa tidak seperti yang diharapkan. Pada pelaksanaan Ulangan Harian materi sistem pemerintahan Indonesia dan peran lembaga negara sebagai pelaksana kedaulatan rakyat, hasil yang dicapai siswa kelas VIII E sangat jauh dari memuaskan, di mana daya serap siswa hanya mencapai 25% dengan nilai rata-rata kelas hanya mencapai 59.
Suasana belajar yang tidak kondusif seperti itu jelas merupakan masalah yang harus segera diatasi, karena berakibat pada rendahnya daya serap siswa terhadap materi pembelajaran dan penguasaan kompetensi dasar yang telah ditetapkan, dan akhirnya menyebabkan prestasi hasil belajar siswa menjadi rendah.
Untuk itu berbagai upaya diagnosa dan perbaikan metode pembelajaran yang standar telah pula dilakukan, antara lain dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melaksanakannya secara konsekuen di depan kelas, melakukan perubahan metode pembelajaran dari metode ceramah ke metode tanya jawab atau metode diskusi dan penugasan, melakukan penilaian proses, pre-tes dan post-tes, analisis butir soal berikut revisi soal-soal yang dinilai kurang layak, bahkah disusul pula dengan pemberian remedi kelas maupun remedi individual, namun tetap saja prestasi hasil belajarnya kurang memuaskan.
Bertolak dari kenyataan seperti itu maka perlu dicari alternatif solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama yang berhubungan dengan faktor kegiatan pembelajaran. Salah satu solusi alternatif yang dipilih untuk diterapkan di sini dan yang diharapkan bisa mengatasi masalah khusus kegiatan pembelajaran dalam bidang studi PKn tersebut adalah pembelajaran dengan metode simulasi.
Dengan metode simulasi diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Pkn siswa kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012, khususnya pada materi kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, peneliti merasa terdorong untuk melihat pengaruh penerapan metode simulasi terhadap hasil belajar siswa dengan mengambil judul “Peningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia dengan Metode Simulasi pada Siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo Tahun pelajaran 2011/2012”.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Seberapa jauh Metode Simulasi dapat hasil dan aktivitas belajar PKn siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012? 2) Bagaimana penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar siswa Kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012?
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui seberapa jauh metode simulasi dapat meningkatkan hasil dan aktivitas belajar PKn siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012. 2) Mendeskripsikan bagaimana penerapan metode simulasi untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar siswa Kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan aspek dari perkembangan yang menunjuk pada perubahan (modifikasi) perilaku sebagai hasil dari praktik dan pengalaman (Oemar Hamalik, 2010:84).
Reber menyatakan bahwa belajar adalah the process of acquiring knowledge. Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan (Agus Suprijono, 2011:3). Pendapat Reber ini banyak dianut oleh banyak kalangan guru yang pada akhirnya di dalam proses belajar mengajar banyak aktivitas menjelaskan oleh guru dan menghafal oleh siswa. Hal ini mengakibatkan seorang peserta didik dianggap sudah belajar apabila sudah hafal dengan apa yang telah dipelajarinya.
Pengertian belajar seperti yang dikemukakan oleh Reber tersebut rasanya belum menyentuh pada esensinya. Karena mendapat pengetahuan, ataupun menambah pengahuan hanyalah merupakan bagian kecil dari belajar.
Sunhaji dalam bukunya Strategi Pembelajaran (2009:12-13) mengemukakan terdapat beberapa elemen yang mencirikan tentang belajar, antara lain ;
belajar adalah, merupakan perubahan dalam tingkah laku. Perubahan itu dapat mengarah pada tingkah laku yang baik, tetapi juga bisa mengarah ke tingkah laku yang jelek.
perubahan itu melalui pengalaman dan latihan, jadi bukan disebabkan karena pertumbuhan dan kematangan seperti pada bayi. Dengalain ungkapan mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar, tetapi belajar berarti akan mengalami.
perubahan itu relatif, merupakan akhir dari sesuatu periode waktu yang panjang, mungkin berhari-hari, bertahun-tahun. Oleh karena itu, bukan karena sekadar termotivasi, adaptasi, dan ketajaman perhatian/kepekaan yang biasanya bersifat sementara.
Tingkah laku yang mengalami perubahan menyangkut berbagai aspek kepribadian, fisik dan psikis, perubahan berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, dan sikap.
Ashar Arsyad dalam bukunya Media Pembelajaran menyatakan:
“Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya” (2007:1).
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain :
“Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengehuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliput segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan mengajar, menilai proses, dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan”(2006:10-11).
Dalam konteks pembelajaran, belajar merupakan usaha atau kegiatan pelajar dalam menyerap dan mengolah bahan ajar atau ilmu, sehingga memperoleh pengetahuan baru, keterampilan baru, sikap baru atau menyempurnakan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sudah dimiliki sebelumnya (Seni Apriliya, 2007:55).
Dari beberapa pengertian tentang belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau ketrampilan berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah belajar siswa tidak ada perubahan tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa belajarnya belum sempurna.
Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Belajar menunjuk hal yang dilakukan seseorang sebagai objek yang menerima pelajaran yaitu peserta didik, sedangkan mengajar menunjuk pada hal yang harus dilakukan oleh guru sebagai seorang pendidik. Dua konsep tersebut menjadi terpadu dalam satu kegiatan, manakala terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, yaitu pada saat pelajaran berlangsung.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006:33) dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilan, yakni pengaturan proses belajar mengajar, dan pengajaran itu sendiri, dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain.
Proses pengajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pengajaran yang efektif adalah interaksi guru dengan siswa. Mengingat kedudukan siswa sebagai objek dan sekaligus sebagai subjek dalam pengajaran, maka inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.
Kegiatan belajar mengajar itulah yang disebut pembelajaran. Pembelajaran berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Pada pembelajaran, guru mengajar diartikan sebagai upaya guru mengorganisir lingkungan terjadinya pembelajaran (Agus Suprijono, 2011:13).
Sementara menurut Seni Apriliya, pembelajaran merupakan proses komunikasi. Sebagai proses komunikasi maka ada sumber pesan (guru), penerima pesan (murid) dan pesan yaitu materi pelajaran yang diambilkan dari kurikulum (2007:35).
Proses pembelajaran adalah kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif tersebut mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Harapan yang ada pada setiap guru adalah bagaimana materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas. Untuk memenuhi harapan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, karena harus disadari bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda baik dari segi minat, potensi, motivasi, kecerdasan dan usaha siswa itu sendiri termasuk faktor yang berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan.
Terhadap keberagaman pribadi yang dimiliki oleh setiap siswa tersebut, sebagai guru harus mampu memberikan pelayanan yang sama sehingga siswa merasa mendapatkan perhatian yang sama. Untuk memberikan pelayanan yang sama tentunya perlu solusi dan strategi yang tepat, sehingga harapan yang sudah dirumuskan sebagai tujuan pembelajaran dan dilaksanakan dalam proses pembelajaran dapat tercapai.
Hasil Belajar dan Penilaian Hasil Belajar PKn
Pengertian Hasil Belajar
Dalam konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terjadi suatu proses interaksi untuk suatu tujuan yang telah ditetapkan yang dalam pembelajaran dikenal dikenal dengan istilah tujuan instruksional. Setelah melakukan proses interaksi tersebut, siswa memiliki kemampuan bisa berupa pengetahuan bisa juga dalam bentuk kreatifitas ataupun sikap. Pengetahuan, kreatifitas ataupun sikap itulah yang merupakan hasil belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2011:22).
Menurut Blom (Agus Suprijono, 2011:6-7), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respons), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.
Gagne dalam Agus Suprijono (2011:5-6) mengemukakan bahwa hasil belajar itu berupa :
Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambing. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan ekternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidikupan sehari-hari.
Hasil belajar siswa secara mudah dapat diketahui dari pelaksanaan penilaian atau evaluasi yang dilakukan guru, dengan tujuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran, mengetahui hasil belajar siswa, mengetahui efektifitas metode yang dipakai, mendorong semangat belajar siswa, menentukan rencana tindak lanjut untuk mengatasi masalah atau kesulitan belajar siswa.
Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar mata pelajaran PKn materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia pada siswa Kelas VIII E semester genap tahun pelajaran 2011/2012 dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi.
Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan serta keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes formatif, subsumatif dan sumatif, untuk kerja (performance), penugasan (proyek), hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.
Sesuai dengan karakteristiknya, hasil belajar siswa yang diharapkan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan terdiri atas tiga aspek kompetensi yaitu a) aspek pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), b) keterampilan kewarganegaraan (civic skill), dan c) watak atau karakter kewarganegaraan (civic dispositions) (Depdiknas:2006).
Aspek pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) menyangkut kemampuan akademik yaitu keilmuan yang dikembangkan dari berbagai teori atau konsep politik, hukum, dan moral. Sehingga dengan demikian pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan bidang kajian multidisipliner. Secara lebih rinci materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang hak dan tangung jawab warganegara, hak asasi manusia, prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga pemerintahan dan non pemerintah, identitas nasional, pemerintahan berdasar hukum (rule of law) dan peradilan yang bebas dan tidak memihak, konstitusi, serta nilai-nilai dan norma – norma dalam masyarakat.
Aspek keterampilan kewarganegaraan (civic skill) meliputi keterampilan intelektual (intelectual skills) misalnya keterampilan dalam merespon berbagai persoalan politik dengan merancang dialog dengan DPR dan keterampilan berpartisipasi (participatory skills) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara misalnya adalah keterampilan dalam mengunakan hak dan kewajibannya di bidang hukum, yang dilakukan dengan cara segera melapor kepada pihak yang berwajib atas terjadinya kejahatan yang diketahuinya.
Sedangkan mengenai aspek watak atau karakter kewarganegaraan (civic dispositions) merupakan dimensi yang paling subtansial dan esensial dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dimensi ini dapat dipandang sebagai muara dari pengembangan kedua dimensi sebelumnya. Berdasarkan visi, misi, dan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan maka karakteristik mata pelajaran Pendidikan Kewargenagaraan ini ditandai dengan penekanan pada dimensi watak, karakter, sikap dan potensi lain yang bersifat afektif.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka setelah belajar Pendidikan Kewargenegaraan seorang warga negara diharapkan memiliki pengetahuan kewarganegaraan yang baik, terutama pengetahuan di bidang hukum, politik, dan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk selanjutnya memiliki keterampilan secara intelektual maupun secara partisipatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan pada akhirnya pengetahuan dan keterampilannya itu akan membentuk watak dan karakter yang mapan, sehingga menjadi sikap dan kebiasaan hidup sehari-hari yang mencerminkan warga negara yang baik seperti sikap relegius, toleran, jujur, adil, demokratis, menghargai perbedaan, menghormati hukum, menghormati hak orang lain, memiliki semangat kebangsaan yang kuat, memiliki kesetiakawanan sosial, dan lain-lain.
Penilaian Hasil Belajar PKn
Membicarakan hasil belajar, tidak bisa lepas dari masalah penilaian atau evaluasi. Penilaian dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan hasil belajar dalam ketuntasan penguasaan kompetensi (Nurhadi, dkk, 2004:109).
Menurut Zaenal Aqib, evaluasi (penilaian) merupakan upaya untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan evaluasi hasil belajar adalah memberikan informasi berkenaan dengan kemajuan siswa, pembinaan kegiatan belajar, menerapkan kemampuan dan kesulitan, untuk mendorong motivasi belajar, membantu perkembangan tingkah laku, dan membimbing siswa untuk memilih sekolah atau jabatan/pekerjaan (2010:69).
Penilaian hasil belajar PKn adalah proses sistematis dan sistemik untuk mengumpulkan informasi, melalui proses pengukuran dan non-pengukuran, atau penggunaan instrument tes maupun non-tes, yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan tentang siswa, perbaikan program, dan perbaikan proses pembelajaran. Maksud penilaian adalah member nilai tentang tingkat pencapaian hasil belajar-mengajar serta efektivitas program dan proses pembelajaran (Depdiknas, 2007:7).
Berdasarkan PP 19 Pasal 63 ayat (1) penilaian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (a) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (c) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Untuk kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik dan satuan pendidikan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran (Pasal 64 ayat (1) dan (2)). Pasal 64 ayat (3) menyatakan bahwa penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui pengamatan perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan siswa.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa penilaian hasil belajar PKn seharusnya tidak hanya dilakukan melalui tes tertulis maupun tidak tertulis, tetapi harus pula dilakukan dengan mengamati sikap dan perilaku siswa baik pada saat proses pembelajaran berlangsung maupun tingkah laku kesehariaannya.
Metode Pembelajaran
Dalam pembelajaran, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.
Secara harfiah, metode berarti cara atau strategi. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006:46) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Nana Sudjana berpendapat bahwa yang dimaksud metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (2010:76).
Sementara Tarigan dalam Seni Apriliya berpendapat bahwa metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan ajar secara rapi dan tertib, yang tidak mengandung bagian-bagian yang kontradiksi, dan didasarkan pada suatu pendekatan tertentu (2007:57).
Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap metode mengajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman balajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling menunjang.
Metode mengajar sangat berperan dalam menciptakan suasana proses pembelajaran yang dapat membuat siswa tertarik, sehingga siswa termotivasi untuk belajar aktif. Ketertarikan dan termotivasinya siswa untuk belajar aktif sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan suatu pengajaran.
Keberhasilan dari suatu pengajaran dapat dilakukan dari dua kriteria, yaitu proses dan produk. Kriteria dari sudut proses menekankan kepada pengajaran sebagai suatu proses haruslah merupakan interaksi dinamis sehingga siswa sebagai subyek yang belajar mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri, dan tujuan yang telah ditetapkan tercapai secara efektif. Sedangkan kriteria dari segi hasil atau produk menekankan kepada tingkah laku penguasaan tujuan oleh siswa baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, yaitu sikap kesehariannya dalam mengaplikasikan pengetahuannya.
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku pada satu metode, bahkan seorang guru sebaiknya mempergunakan metode yang bervariasi agar pembelajaran menarik dan tidak membosankan. Namun demikian, penggunaan metode yang bervariasi harus tepat dan sesuai dengan situasi yang mendukungnya termasuk kondisi psikologis anak didiknya.
Simulasi sebagai Metode Pembelajaran
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seolah-olah (Sudjana, 2011:89). Kata simulation artinya tiruan atau perbuatan yang berpura-pura. Dengan demikian simulasi dalam metode mengajar dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (materi pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya.
Menurut Seni Apriliya (2007:58-59) yang dimaksud metode simulasi adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan situasi tiruan atau berpura-pura dalam proses belajar untuk memperoh suatu pemahaman tentang hakikat suatu konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
Sedangkan Zainal Aqib berpendapat bahwa Metode Simuasi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui kegiatan praktik langsung tentang pelaksanaan nilai-nilai, penerapan pengetahuan, dan keterampilan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan metode ini, diharapkan pemahaman, pengetahuan dan penghayatan siswa terhadap sikap dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dapat berkembang (2010:99-100).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pembelajaran melalui kegiatan meniru seperti melakukan secara langsung tentang pelaksanaan nilai-nilai, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini menampilkan simbol-simbol, protipe, atau peralatan yang menggantikan suatu proses, kejadian atau benda yang sebenarnya. Metode ini dapat mengembangkan pemahaman, pengetahuan dan penghayatan siswa terhadap sikap dan nilai yang berlaku di masyarakat.
Untuk melaksanakan permainan simulasi, alat-alat yang diperlukan adalah :
Beberan simulasi yaitu berupa lembaran kertas persegi panjang yang berisikan judul topik di tengahnya, nomor sebagai penunjuk, tempat mulai/star dan stop, 2 ruang sudut yang berisikan dor, yang nantinya menunjukkan apabila sampai dengan tanda tersebut (dor) peserta harus melakukan sesuatu sesuai dengan pesan yang ada.
Dadu sebagai alat untuk mengatur langkah permainan.
Kartu yang berisi pesan/pertanyaan sebagai petunjuk yang harus dilakukan/dijawab oleh pemain.
Gaco sebagai tanda pemain sebanyak sesuai dengan kebutuhan sebagai tanda bagi peserta / pemain simulasi.
Proses pembelajaran dengan simulasi memiliki tahap-tahap sebagai berikut:
Tahap pertama, tahap pertama ini adalah tahap orientasi yang meliputi menyajikan topik yang akan disimulasikan, menjelaskan prinsip simulasi dan memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
Tahap kedua, tahap kedua ini merupakan tahapan latihan bagi peserta simulasi. Pada tahap ini meliputi membuat skenario (menentukan peranan) dan mencoba dengan singkat kegiatan simulasi.
Tahap ketiga, yaitu tahap inti (proses simulasi). Pada tahap ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh para pemain peran simulasi.
Tahap keempat, disebut juga tahap pemantapan atau debricfing yaitu dengan memberikan penjelasan mengenai kegiatan yang telah dilakukan.
Memberi penjelasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para siswa, menganalisis proses, membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata dan menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran.
Pada kegiatan akhir pembelajaran kelompok diberi kesempatan membuat kesimpulan sendiri mengenai hal yang telah disimulasikan dan mempresentasikannya di depan kelas dan setiap siswa yang lain khususnya dari kelompok lain diberi kesempatan untuk bertanya dan atau memberikan tanggapan. Hal ini dimaksudkan agar setiap siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar, yang selanjutnya diharapkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari menjadi meningkat. Dengan meningkatnya pemahaman tersebut dapat juga meningkatkan hasil belajar siswa.
Pembelajaran Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia dengan Metode Simulasi
Proses pembelajaran siklus I
Pembelajaran siklus I dilaksanakan dengan alokasi waktu 4 x 40 menit untuk dua kali pertemuan. Kompetensi Dasar yang akan dicapai dalam siklus I adalah mendeskripsikan sistem pemerintahan Indonesia dengan indikator pencapaian kompetensi membandingkan sistem pemerintahan presidensial dengan parlementer dan menjelaskan sistem pemerintahan Indonesia.
Pada pertemuan pertama, guru melakukan apersepsi dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan simulasi dan menetapkan topik atau materi simulasi. Dalam kegiatan inti, proses pembelajaran dengan metode simulasi. Siswa dibagi dalam empat kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari delapan orang). Salah satu anggota kelompok berperan sebagai fasilitator. Di akhir kegiatan simulasi, setiap kelompok diminta menyimpulkan dari materi yang disimulasikan.
Pada pertemuan kedua, setelah apersepsi dan sedikit ulasan mengenai simulasi pada pertemuan pertama kepada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan kesimpulan dari simulasi dalam kelompok di depan kelas. Setelah semua kelompok presentasi, guru menggarisbawahi kesimpulan dari setiap kelompok.
Tahap berikutnya, setiap siswa diberi kesempatan untuk bertanya serta mengungkapkan apa yang dipikirkan setelah melakukan kegiatan pembelajaran dengan metode simulasi dan selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran yang telah dilakukan .
Proses pembelajaran siklus II
Pembelajaran siklus II dilaksanakan dengan alokasi waktu 4 x 40 menit untuk dua kali pertemuan. Kompetensi Dasar yang ingin dicapai dalam siklus II ini adalah Sikap positif terhadap kedaulatan rakyat dan sistem Pemerintahan Indonesia. Pada siklus ini penerapan metode simulasi dibuat agak berbeda, yaitu dengan setiap kelompok diminta untuk menetapkan atau memilih materi sendiri. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih aktif dan kreatif terhadap materi yang dipelajari serta terbuka dalam menyampaikan pendapatnya.
Sementara guru dibantu rekan sejawat melakukan pengamatan terhadap jalannya simulasi. Kepada setiap kelompok yang sudah selesai melakukan simulasi apabila waktu masih ada diminta untuk saling berganti peran. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendalami dan memahami materi.
Pada pertemuan kedua setiap kelompok diminta untuk menyampaikan kesimpulan dari materi yang disimulasikan. Seperti pada siklus I, setelah siklus II juga dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa.
Kajian Hasil Penelitian
Penelitian berkaitan dengan penerapan metode Simulasi diantaranya telah dilakukan oleh Lina Herlina pada tahun 2010 dengan Judul Penerapan Metode Simulasi Untuk Menuntaskan Hasil Belajar Ekonomi Dalam Mengelola Koperasi Sekolah Pada Siswa Kelas XII IPS Semester Genap SMA Negeri 1 Krangkeng Indramayu.
Hasil studi awal dengan pengamatan menunjukkan bahwa sebagian siswa kelas XII IPS SMAN 1 Krangkeng Kabupaten Indramayu kurang aktif saat mengikuti pembelajaran. Hal tersebut berdampak pada perolehan rata-rata nilai ulangan harian sebesar 60 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 29%. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada saat proses pembelajaran dikelas dapat diidentifikasi bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan kurang bervariasi dan kurang dapat melibatkan siswa untuk berperan aktif. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPS SMAN 1 Krangkeng Kabupaten Indramayu pada dalam Mengelola Koperasi Sekolahdengan menerapkan metode simulasi. Setting dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPS SMAN 1 Krangkeng Kabupaten Indramayu tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus. Masing-masing siklus mencakup empat tahap kegiatan yaitu (1) perencanaan (planning) yang meliputi kegiatan mengidentifikasi masalah dan menetapkan rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan (acting) yaitu dengan melaksanakan tindakan berupa pembelajaran dengan menerapkan metode simulasi, (3) pengamatan (observing) yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dengan mengumpulkan data untuk mengetahui efektivitas tindakan yang dilakukan, (4) refleksi (reflecting) yaitu melakukan analisis data yang diperoleh dari pengamatan. Secara keseluruhan data yang diperoleh meliputi hasil belajar siswa, motivasi siswa, kinerja guru dan keaktifan siswa serta tanggapan siswa terhadap pembelajaran.
Berdasarkan ketiga siklus yang dilaksanakan, diperoleh hasil pada siklus I nilai rata-rata siswa mencapai 64,56 dengan ketuntasan belajar 14.63%, pada siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 74,56 dengan ketuntasan belajar 29.27%, pada siklus III nilai rata-rata siswa mencapai 85,15 dengan ketuntasan belajar 78.05%. Meningkatnya pencapaian hasil belajar siswa tersebut disertai dengan meningkatnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Kerangka Berpikir
Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan metode pembelajaran interaktif di mana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar, guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Salah satu pembelajaran yang dapat membuat keterlibatan siswa secara total adalah dengan pembelajaran menggunakan metode simulasi. Karena dengan simulasi, setiap siswa diberi kesempatan untuk menjalankan peran masing-masing dan berpartisipasi dalam kelompoknya.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian maupun tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah Penerapan metode simulasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa.
METODE PENELITIAN
Obyek Tindakan
Obyek tindakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar PKn materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia yang masih rendah pada siswa Kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012.
Dengan penerapan metode simulasi pada pembelajaran materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia diharapkan aktivitas dan motivasi siswa kelas VIII E meningkat yang pada akhirnya hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Indikator keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran PKn adalah tercapainya nilai minimal (KKM). Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Standar Kompetensi materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia adalah 75. Diharapkan setelah penerapan metode simulasi dalam pembelajaran bisa mencapai rata-rata nilai klasikal lebih dari 80 dengan prosentase ketuntasan minimal 80%. Serta tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran mencapai 90%.
Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo dengan alasan karena peneliti adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah dan kelas tersebut.
Pertimbangan lain yang menjadi alasan peneliti adalah selama ini hasil belajar siswa PKn Kelas VIII E rendah. Diantaranya dilihat dari nilai rata-rata hasil evaluasi belajar pada materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia hanya mencapai 59,22 yang jelas jauh dari Kriteria Ketuntasan Belajar yang telah ditetapkan yaitu 75.
Subyek Penelitian
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 32 siswa yang terdiri atas 10 siswa putra dan 22 Siswa putri.
Berdasarkan analisis data hasil ulangan yang diperoleh setelah kegiatan pembelajaran pada kondisi awal, dari 32 siswa dapat dideskripsikan sebagai berikut :
Pencapaian rata-rata kelas 59,22 dengan nilai tertinggi 80 dan terendah 25.
Dengan KKM 75, hanya 8 siswa yang tuntas atau dari seluruh siswa 25 %, sedangkan sisanya 24 siswa tidak tuntas atau 75 % dari seluruh siswa.
Terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai sangat rendah yaitu di bawah 55.
Dari aktivitas siswa dalam pembelajaran berdasar pengamatan peneliti siswa yang aktif dalam pembelajaran dari 32 siswa hanya mencapai 31,25 % atau 10 siswa, dan sisanya 68,75 % atau 22 siswa tidak aktif. Prosentase ketidakaktifan siswa yang tinggi ini menurut pendapat peneliti disebabkan karena proses pembelajaran yang terkesan monoton dan kurang menarik sehingga membosankan bagi siswa di samping guru belum menerapkan metode pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas dan tumbuh berkembangnya potensi siswa.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara yang akan dilakukan untuk mengumpulkan data penelitian baik berupa nilai maupun nonnilai. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Observasi yaitu suatu cara mengumpulkan data dengan cara melakukan pengamatan langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Data yang biasa diambil adalah data tingkah laku dan aktivitas siswa dalam KBM.
Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara mempelajari dan menyeleksi data dari dokumen yang relevan dengan penelitian. Dokumen tersebut seperti daftar nilai, jurnal mengajar, catatan perilaku dari guru dan lainnya.
Tes yaitu suatu cara mengumpulkan data daya serap siswa dengan diberikan pertanyaan-pertanyaan yang terkait secara langsung dengan indikator keberhasilan pembelajaran.
Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas yang direncanakan dengan dua siklus yang setiap siklusnya meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan atau observasi dan refleksi.
Tahap Perencanaan
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh peneliti pada tahapan ini adalah:
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Membuat lembar observasi untuk melihat suasana pembelajaran, aktivitas guru dan aktivitas siwa selama proses belajar mengajar dengan menerapkan metode simulasi.
Membuat analisa hasil ulangan harian setiap siklus, untuk melihat apakah siswa kelas VIII E dalam proses belajar mengajar ada peningkatan penguasaan materi kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan Indonesia melalui penerapan metode simulasi dengan menganalisis hasil belajar siswa.
Tahap Pelaksanaan / Tindakan
Guru melaksanakan tindakan kelas dengan metode simulasi yang diterapkan dalam pembelajaran.
Pemantauan / observasi
Pada tahap pemantauan dikumpulkan data dan informasi dari beberapa sumber untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas dari tindakan yang dilakukan. Data tentang penguasaan materi hakekat negara diperoleh dari nilai ulangan harian.
Refleksi
Refleksi adalah kegiatan yang mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas dan guru. Guru merefleksi capaian hasil belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan kemudian merumuskan keberhasilan maupun kekurangannya untuk ditindaklanjuti dengan langkah-langkah program berikutnya berupa penyempurnaan dan pengembangan.
Metode Analisis Data
1. Data mengenai hasil belajar
Data mengenai hasil belajar dianalisis dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar secara klasikal. Adapun rumus yang digunakan adalah:
a. Menghitung rata-rata nilai
Untuk menghitung rata-rata nilai secara klasikal digunakan rumus rata-rata nilai.
Keterangan:
X = rata-rata nilai
ΣX = jumlah seluruh nilai
N = jumlah siswa
b. Menghitung ketuntasan belajar
Untuk menghitung ketuntasan belajar secara klasikal digunakan rumus seperti yang digunakan untuk menganalisis data aktivitas siswa dan tanggapan siswa, yaitu teknik analisis deskkriptif persentase. Adapun rumusnya adalah:
Persentase = x100%
Keterangan:
Persentase = tingkat persentase yang dicapai
n = nilai yang diperoleh
N = jumlah seluruh nilai
Keterangan:
Dalam perhitungan ketuntasan belajar secara klasikal dengan rumus di atas, maka ”n” merupakan simbol dari jumlah siswa yang mempunyai nilai = 75 dan ”N” merupakan simbol dari seluruh siswa peserta tes.
2. Data aktivitas siswa dan data tanggapan siswa
Data ini dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
NA=(∑▒n)/4 x 10
Persentase = x100%
Keterangan:
Persentase = tingkat persentase yang dicapai
n = nilai yang diperoleh
N = jumlah seluruh nilai
Cara Pengambilan Kesimpulan
Pemahaman isi materi kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan Indonesia. Siswa dikatakan memahami materi kedaulatan rakyat dalam system pemerintahan Indonesia apabila dalam tes memperoleh nilai di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 75.
Ketuntasan belajar klasikal. Secara klasikal siswa kelas VIII E dikatakan tuntas jika nilai rata-rata kelas mencapai 75.
Tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran. Siswa dikatakan aktif apabila nilai pengamatan memperoleh nilai minmal 75 dan secara klasikal perolehan rata-rata mencapai 80 ke atas.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Sekilas Tentang Setting
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Candimulyo dengan subyek penelitian siswa kelas VIII E yang berjumlah 32 siswa tediri dari 10 siswa putra dan 22 siswa putri, mata pelajaran PKn pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012.
Pada kondisi awal dari penelitian ini setelah adalah evaluasi, secara lengkap data perolehan hasil belajar siswa sebelum penerapan metode simulasi dalam pembelajaran materi Kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan Indonesia adalah sebagai berikut :
Tabel 1: Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran PKn kelas VIII E Semester 2 SMP Negeri 1 Candimulyo Tahun Ajaran 2011/2012
Berdasarkan perolehan nilai di atas dapat disajikan rekapitulasi data dalam tabel berikut :
Table II : Rentang nilai siswa
NO Rentang Nilai Jumlah siswa Prosentase
1 85 – 100 0 0 %
2 75 – 84 8 25,00 %
3 60 – 74 14 43,75 %
4 < 60 10 31,25 %
Table III : Rata-rata nilai siswa
NO Uraian NILAI KETERANGAN
1 Nilai tertinggi 80 2 siswa
2 Nilai terendah 25 2 siswa
3 Nilai rerata 59,22
Table IV : Prosentase Ketuntasan hasil belajar siswa
NO Uraian Jumlah Siswa Prosentase
1 Siswa yang telah tuntas 8 25 %
2 Siswa yang belum tuntas 24 75 %
Dari data pada tabel di atas jelas hasil belajar siswa kelas VIII E pada materi kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan Indonesia sangat rendah yaitu pencapaian rata-rata kelas hanya 59,22 yang sangat jauh dari KKM yaitu 75. Dari 32 siswa terdapat 24 siswa memperoleh nilai kurang dari 75 dan hanya 8 siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas dengan rata-rata kelas 59,22. Ini artinya di kelas VIII E ketuntasan belajar secara klasikal hanya 25 %. Bahkan terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai sangat rendah yaitu di bawah 60, yang jelas sangat jauh dari harapan.
Sementara hasil pengamatan selama kegiatan pembelajaran pada kondisi awal kelas VIII E di SMP Negeri 1 Candimulyo, rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan oleh kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar, kurangnya minat terhadap bahan pelajaran, kurangnya keaktifan siswa serta penggunaan metode pembelajaran yang masih konvensional yaitu dengan ceramah di samping sumber pembelajaran berupa buku paket sehingga menyebabkan siswa bergantung kepada guru. Hal ini berdampak pada siswa belum dapat belajar secara mandiri dan siswa menjadi kurang aktif dalam proses belajar.
Berdasarkan kondisi awal siswa yang buruk tersebut yaitu permasalahan hasil belajar siswa dan tingkat aktivitas yang rendah, peneliti berpikir untuk segera memecahkannya. Dan solusi yang diterapkan adalah dengan menerapkan metode simulasi dalam pembelajaran.
Uraian Penelitian Secara Umum
Penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas dengan permasalahan pokok hasil belajar PKn yang masih rendah pada materi Kedaulatan Rakyat dan Sistem Pemerintahan Indonesia pada siswa kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012 rendah. Di samping permasalahan di atas, juga dalam pelaksanaan pembelajaran PKn tingkat aktivitas dan keterlibatan siswa masih rendah.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul : Peningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Kedaulatan Rakyat dan Sistem Pemerintahan Indonesia dengan Metode Simulasi pada Siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo Tahun pelajaran 2011/2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode simulasi berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012, dan mendeskripsikan bagaimana penerapan metode simulasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII E SMP N 1 Candimulyo tahun pelajaran 2011/2012. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Juni 2012.
Penelitian dilaksanakan dengan 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri atas 4 tahap yaitu :
Perencanaan
Pelaksanaan
Pengamatan
Refleksi
Data yang diperoleh dari metode observasi selama proses pembelajaran, dokumentasi dan tes kemudian terkumpul dianalisis dengan statistik deskriptif untuk mengambil suatu kesimpulan.
Penjelasan Persiklus
Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan ini terdiri atas 2 siklus.
Deskripsi Siklus 1
Perencanaan Tindakan
Dalam tahapan ini, dilakukan beberapa persiapan sebelum melaksanakan semua tindakan pembelajaran PKn di dalam kelas. Sebelum melakukan proses pembelajaran di dalam kelas, terlebih dahulu mempersiapkan beberapa hal yang menunjang sebagai berikut :
rencana pelaksanaan pembelajaran
materi pembelajaran dengan metode simulasi
media untuk simulasi yang terdiri dari :
beberán simulasi
dadu
kartu yang berisi pesan/pertanyaan
gaco sebagai tanda pemain
lembar pengamatan/observasi untuk mengamati aktivitas belajar siswa
kisi-kisi, soal dan kunci jawaban serta pedoman penilaian untuk pengukuran hasil belajar siswa.
Pelaksanaan
Siklus I dalam peneliti ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dengan masing-masing pertemuan 2 x 40 menit yaitu Rabu tanggal 18 April dan 2 Mei 2012. Setiap pertemuan mencakup tahapan yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan penutup.
Secara umum, proses pembelajaran dari kegiatan awal, kegiatan inti hingga penutup berjalan seperti skenario yang telah dirancang yaitu dengan semua siswa terlibat dalam simulai dan nampak antusias melaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Gambaran pelaksanaan setiap tahap dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertemuan pertama (18 April 2012)
Dalam kegiatan awal, guru melakukan apersepsi dengan presentasi siswa kemudian meminta salah satu dari siswa memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Berikutnya secara ringkas guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu dengan metode simulasi. Kelas dibagi dalam empat kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari delapan orang). Setelah semua siswa berada dalam kelompok masing-masing, guru meminta salah satu dari setiap kelompok menjadi fasilitator.
Kegiatan inti dimulai dengan fasilitator membuka kegiatan dengan do’a, dilanjutkan menentukan pemegang peran dan pemain yang akan bermain dalam simulasi. Berikutnya dengan media yang telah tersedia, setiap kelompok bermain simulasi dengan materi yang sudah disiapkan guru.
Kegiatan penutup dilaksanakan dengan guru meminta semua kelompok untuk membuat kesimpulan hasil simulasi untuk dipresentasikan pada pertemuan kedua.
Pertemuan II
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2012 diawali dengan menyanyikan lagu Bagimu Negeri dipimpin salah satu siswa. Kemudian guru mengulas kembali secara ringkas apa yang dilakukan siswa pada pertemuan pertama dan meminta setiap kelompok untuk bersiap melakukan presentasi hasil simulasi.
Kegiatan inti diberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan kesimpulan dari pelaksanaan simulasi kelompok. Kepada kelompok yang lain menyimak, memperhatikan dan mengajukan pertanyaan dan tanggapan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran dengan bertanya atau menanggapinya.
Di akhir kegiatan, setelah guru member kesimpulan materi pembelajaran dilanjutkan dengan evaluasi untuk mengukur hasil belajar siswa pada siklus I.
Pengamatan
Setelah diadakan pengamatan selama proses kegiatan simulasi pada siklus I, beberapa siswa dalam kelompok terlihat antusias dan sungguh-sungguh mengikuti pelaksanaan simulasi.
Sebagian besar siswa terlihat lebih aktif dalam menyampaikan materi sehingga meningkatkan pula keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran mata pelajaran PKn. Siswa yang terbagi dalam beberapa kelompok dapat dengan mudah berdiskusi dengan rekannya dalam menghadapi kasus yang dihadapi. Dalam menghadapi kasus secara berkelompok siswa banyak mengemukakan pendapatnya untuk bisa diterima di dalam kelompoknya, karena masing-masing individu akan berbeda tanggapannya terhadap kasus yang ada berdasarkan pemahaman konsiderasi siswa itu sendiri.
Refleksi
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran PKN. Metode Simulasi merupakan pengalaman pertama kali dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas, khususnya Kelas VIII E.
Karena baru pertama kali diadakan dalam pembelajaran, tampak para siswa masih bingung dan merasa canggung apalagi pada waktu mendapat giliran memainkan perannya dan menjawab soal atau pesan dalam kartu yang dibukanya.
Para siswa masih ada yang tidak senang dengan teman kelompoknya, dengan demikian tugas yang dikerjakan secara kelompok yaitu membuat kesimpulan di akhir pelaksanaan simulasi, tidak semua terlibat.
Adanya sebagian siswa yang belum terlibat secara penuh menyebabkan adanya beberapa yang belum memahami atau menguasai materi yang disimulasikan. Hal ini berdampak pada pencapaian hasil belajar belum optimal.
Hal ini dapat dilihat dari: a. Kegiatan simulasi kelompok kurang bisa membawa siswa untuk aktif berbicara mengemukakan pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan, b. Sebagian siswa mengandalkan kemampuan menjawab pertanyaan yang tedapat dalam kartu pesan bukan pada kemampuan menyikapi atau memecahkan persoalan, sehingga motivasi belajar siswa adalah untuk mempelajari materi secara keseluruhan (sebatas materi/bahan ajar) bukan untuk mensinkronkan materi dengan kehidupan nyata.
Motivasi belajar siswa terhadap materi PKN hanya dimiliki mereka yang sebagian besar memiliki prestasi di kelas, sedangkan mereka yang berprestasi rendah/kurang cenderung pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan siswa dalam proses belajar yang dialami sebelumnya.
Guna mengetahui keberhasilan dari siklus I bisa dilihat dari kesiapan guru sebelum mengajar baik persiapan fisik, psikis maupun metodologis. Selain itu penguasaan kelas oleh guru dan juga pembagian kelompok yang tepat maka akan membuat siswa lebih aktif dari kondisi sebelumnya pada pembelajaran PKn dan mempengaruhi pemahaman konsiderasi dan tanggapan siswa terhadap kasus yang dihadapinya sehingga dalam penilaian hasil pengerjaan soal yang dipecahkan bersama-sama dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel Hasil Belajar Siswa Siklus I
Berdasarkan hasil analisis dari siklus I, maka peneliti akan melanjutkan pembelajaran pada siklus II dengan mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
Guru lebih banyak memberikan dorongan tentang manfaat materi pelajaran yang dipelajari, terutama pada kelompok yang pasif dan kurang bersemangat dalam proses pembelajaran.
Memotivasi siswa agar lebih berani dan terbuka dalam mengungkapkan gagasannya.
Memberi pengertian akan pentingnya simulasi.
Memacu siswa untuk lebih banyak membaca buku, baik di perpustakaan atau buku pendukung lainnya.
Memberi kebebasan kepada semua siswa untuk lebih berekplorasi dengan cara meminta siswa menyiapkan materi secara kelompok untuk disimulasikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya.
Deskripsi Siklus 2
Perencanaan
Setelah dilakukan evaluasi pada siklus I maka dapat diketahui hasil dari kreatifitas guru itu sendiri dan seberapa jauh peningkatan konsiderasi siswa terhadap lingkungan berdasarkan kasus yang dihadapinya. Akan tetapi penerapan metode terhadap siswa tidak berhenti sampai disitu. Namun guna lebih memaksimalkan hasil, dibuatlah siklus lanjutan. Seperti halnya pada siklus I, pada siklus II diawali dengan menyusun rencana perbaikan yang nantinya akan diimplementasikan dalam pelaksanaan. Dengan memadukan hasil refleksi siklus I dan rencana siklus II, diharapkan terjadi peningkatan lagi dalam kualitas dan minat siswa pada pemahaman mata pelajaran PKn juga peningkatan kualitas guru. Selanjutnya menyiapkan lembar observasi dan evaluasi sebagai wujud analisis dalam mengetahui perkembangan siswa.
Pelaksanaan
Siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan (4 x 40 menit) yaitu pada tanggal 9 Mei 2012 dan 16 Mei 2012.
Sebelum dimulai pelaksanaan tindakan, guru menjelaskan KBM dan hasil evaluasi siklus I. Kemudian menginjak pada susunan materi, siswa diberikan pemahaman bahwa sikap positif terhadap keadulatan rakyat dan system pemerintahan negara dalam kehidupan bermasyarakat itu penting sekali. Karena sebagai makhluk sosial maka manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan harus hidup bermasyarakat yang mempunyai norma-norma yang harus dipatuhi dan dijalankan.
Setelah itu siswa secara kelompok diminta menyiapkan materi untuk disimulasikan. Seperti halnya di siklus I, pada siklus II pun diadakan tes dengan menggunakan kumpulan soal-soal terdahulu yang relefan. Kemudian dilanjutkan dengan koreksi dan pembahasan soal bersama-sama.
Pengamatan
Hasil pengamatan menunjukkan, siswa sudah mempunyai minat untuk belajar mata pelajaran Pkn yang ditandai dengan keaktifan mereka dalam pelaksanaan simulasi seperti berpendapat menyampaikan pendapat tentang materi yang disimulasikan, memainkan peran yang ditentukan termasuk member komentar terhadap peran yang dimainkan teman dalam kelompoknya.
Refleksi
Setelah dilakukan siklus II terlihat adanya peningkatan nilai hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Siswa lebih tertarik untuk mempelajari mata pelajaran PKn daripada sebelum guru menggunakan metode simulasi. Dari segi penilaian statistik juga terjadi peningkatan.
Proses Menganalisis Data
Setelah siklus pertama dan kedua selesai, peneliti berhasil mengumpulkan data yang diperoleh dari pengamatan saat kegiatan simulasi dalam pembelajaran dan hasil ulangan setelah pembelajaran.
Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan proses sebagai berikut :
Tabel 2 Aktivitas Belajar
Pembahasan
Berdasarkan tabel hasil ulangan harian siswa tampak ada peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan metode simulasi pada materi Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Pemerintahan Indonesia. Jika diwujudkan dalam nilai ada kenaikan nilai rata-rata dari 71,41 menjadi 83,50. Berdasarkan table aktivitas siswa terlihat adanya perubahan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Jika diwujudkan dalam nilai ada kenaikan nilai rata-rata dari 71,80 menjadi 72,79
GRAFIK PENCAPAIAN HASIL BELAJAR SISWA SETIAP SIKLUS
GRAFIK AKTIVITAS BELAJAR SISWA
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Negeri 1 Candimulyo dapat disimpulkan sebagai berikut:
Metode simulasi dalam pembelajaran PKn yang diterapkan pada siswa kelas VIII E telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari siklus ke siklus. Pada siklus I, hanya ada beberapa siswa yang mampu mengaplikasikan pemahamannya terhadap penjelasan gurunya namun setelah ada siklus lanjutan yaitu siklus II peningkatan pemahaman siswa lebih meningkat tajam karena siswa dilibatkan untuk mencari materi yang dipeljarinya. Dari materi-materi yang ada dari siklus I, dan siklus II baik seiring meningkatnya pemahaman siswa terhadap pembelajaran PKn. Siswa telah mampu untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari.
Penerapan metode simulasi dalam pembelajaran menjadikan siswa lebih termotivasi untuk terlibat di dalamnya sehingga terjadi interaksi yang positif baik antar siswa maupun siswa dengan guru.
Penerapan metode simulasi pada siswa di kelas VIII E SMP Negeri 1 Candimulyo, dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn.
Saran
Berdasarkan simpulan dari hasil penelitian tindakan kelas ini dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
Guru perlu menentukan metode yang tepat dalam setiap pembelajaran sehingga mendukung tercapainya hasil dan aktivitas belajar yang baik.
Pemilihan metode harus pula mempertimbangkan kemampuan, minat dan juga sarana yang mendukung dalam pembelajaran sehingga dapat secara optimal mampu menggali potensi siswa.
Siswa perlu dijelaskan bagaimana suatu metode diterapkan dalam pembelajaran sehingga metode tersebut dapat secara optimal meningkatkan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Apriliya, Seni. 2007. Manajemen Kelas Untuk Menciptakan Iklim Belajar yang Kondusif. Jakarta : PT Visindo Media Persada
Arshad, Azhar M.A, Prof. Dr., 2002. Media Pembelajaran, Jakarta : PT Raja Grafinfo Persada
Asrori, H. Mohammad, Prof. Dr. M.Pd. 2009. Psikologi Pembelajaran, Bandung : CV Wacana Prima
Aqib, Zainal. 2010. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendekia
Bahri, Syaiful Djamarah, Dr., Aswan Zain, Drs., 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
, 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta
……………, 2007. Sekolah sebagai Wahana Pengembangan Warga Negara yang Demokratis dan Bertanggung Jawab melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Buku IV SMP Pedoman Penilaian. Jakarta : Depdiknas.
Herlina, Lina. 2010. Penerapan Metode Simulasi Untuk Menuntaskan Hasil Belajar Ekonomi Dalam Mengelola Koperasi Sekolah Pada Siswa Kelas XII IPS Semester Genap SMA Negeri 1 Krangkeng Indramayu.
Hamalik, Oemar. 2010. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Hermawan, Hendy, 2006. Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung : CV Citra Praya
Nurhadi, Dr. M.Pd., dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universit (UMPRESS)
Sudjana, Nana. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sunhaji. 2009. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta : Grafindo Litera Media.
Suprijono, Agus, 2011. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, Yogykarta : Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar