LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

 


LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3

COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

Suhardi SMPN 1 Muntilan Kabupaten Magelang

A.    Latar Belakang

Menurut bapak filosofi pendidikan indonesia yaitu bapak Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat dan iradat yang dimilikinya agar anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Untuk itu, salah satu proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan cara coaching. Dalam coaching seorang guru berperan sebagai coach dapat menuntun, mengarahkan, dan membimbing seorang coachee (murid) dengan mengajukan pertanyaan untuk menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki coache dengan harapan agar coache dapat menyadari akan potensi yang ada pada dirinya sehingga ia dapat memanfaatkan potensinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal yang demikian dapat mengajarkan murid untuk berpikir kritis dan inovatif yang merupakan langkah awal menjadi pribadi yang berkwalitas dan bermutu.  Hal ini sejalan dengan visi sekolah kami yaitu " Terwujudnya sekolah yang berprestasi, trampil, berkwalitas, berbudaya lingkungan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang maha Esa".

Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan membawa coachee untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari solosi terhadap permasalahan yang dihadapi. Kemampuan berkomunikasi menjadi hal yang sangat penting (kunci) dari proses coaching sebab pendekatan dan teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan proses mendorong sehingga caochee dapat menemukan solusi dari potensi yang dimilikinya sendiri.

Melalui proses coaching masalah-masalah yang mengganggu aktivitasnya sehingga menyebabkan terhambatnya dia mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, bisa diidentifikassi secara optimal. Caoching tidak hanya dilakukan kepada murid tetapi bisa juga dilakukan kepada orang dewasa, teman sejawat bahkan kepada atasan untuk membantu menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi.

 

 

B.     Tujuan

Aksi nyata ini dilakukan dengan tujuan dengan tujuan:

1.      Membantu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi guru dan murid dengan cara menuntun dan membimbingnya mencapai solusi yang diharapkannya.

2.      Membantu warga sekolah dalam hal ini Rekan sejawat menggali potensi yang dimilikinya agar memiliki kemampuan memgatasi permasalahan yang dihadapinya sesuai dengan potensi yang dimiliki.

3.      Melaksanakan coaching model TIRTA untuk menciptakan suasana yang mendukung upaya penyelesaian permasalahan yang dihadapi rekan sejawat yang pada gilirannya berdampak pada pembelajaran di kelas untuk meningkatkan potensi murid.

 

C.    Tolok Ukur

1.      Terlaksananya proses coaching kepada rekan sejawat sehingga mampu menemukna solusi dan penyelesaian masalahnya sendiri mengunakna praktik model TIRTA. 

2.      Terciptanya suasana kondusif di lingkungan sekolah yang memberi dampak terlaksanaanya pembelajaran yang berpihak pada murid dengan adanya praktek coaching di sekolah. 

3.      Sistem coaching yang akan dilakukan menggunakan modeel TIRTA. TIRTA yang berarti Tujuan, Identifikasi Masalah, rencana aksi, dan tanggung jawab.

4.      Hasil coaching yang saya lakukan sebelumnya bersama guru atau rekan sejawat.

 

D.    Linimasa Tindakan Aksi Nyata

1.      Membuat rencana pelaksanaan praktik coaching 

2.      Bekonsultasi dengan Kepala Sekolah terkait rancangan coaching di sekolah 

3.      Sosialisasi tentang proses praktik coach coachee kepada kepada seluruh warga sekolah

4.      Melaksanakan praktik coaching sesui dengan agenda sebelumnya,

5.      Evaluasi, refleksi Dan tindak lanjut setelah melaksanakan praktik aksi nyata

 

E.     Dukungan yang Dibutuhkan

Aktivitas Coaching ini bisa dilaksanakan berkat dukungan positif dari Kepala Sekolah, seluruh guru dan karyawan di sekolah. Komunikasi dan kolaborasi yang positif menjadi hal yang mutlak diperlukan dalam melaksanakan setiap aktivitas. Selain itu juga keterbukaan serta komitmen yang kuat dari segenap warga sekolah untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada murid menjadi sangat penting artinya untuk segera menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

 

F.     Capaian

Dengan praktik coaching ini saya berlatih untuk menjadi pendengar yang baik, dan menahan diri untuk tidak langsung memberikan solusi tetapi menahan diri untuk hanya mengarahkan sampai coachee (rekan kerja) saya menemukan sendiri solusi atas masalahnya sendiri. Praktik coaching ini harus terus menerus dilakukan supaya kita bisa terbiasa untuk menjadi coach, karena praktik ini bisa membuat coachee lebih mandiri dapat menemukan solusi sendiri, tidak tergantung dengan coach atau orang lain. 

 

G.    Refleksi dan tindak lanjut

Coaching sangat bermanfaat dilakukan seseorang dalam “membantu” orang lain untuk menemukan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.

Dengan menerapkan coaching model TIRTA dapat mengarahkan coachee secara lebih sistematis sehingga tujuan dari coaching itu sendiri dapat tercapai. Adapun tujuan dari coaching adalah menggali seluruh potensi diri coachee. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan coach, coachee dapat menggali segenap potensi yang dimilikinya sehingga dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi massalah yang dihadapi.

Coaching dapat diterapkan kepada siapa saja untuk masalah apa saja dan di mana saja. Sangat tepat apabila coaching ini juga diterapkan untuk menggali potensi yang dimiliki murid yang pada akhirnya dapat mengatasi masalah yang dihadapi sendiri.

 

 

 

 

 

H.    Dokumentasi








 


 

 

 


 


 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1