LAPORAN AKSI NYATA MODUL 3.1 a 10

 LAPORAN AKSI NYATA MODUL 3.1 a 10

PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

SUHARDI, CGP ANGKATAN 4 SMP NEGERI 1 MUNTILAN KABUPATEN MAGELANG

 

A.   Latar Belakang

Sebagai seorang pemimpin apapun itu termasuk sebagai pemimpin pembelajaran harus memahami bagaimana pengambilan keputusan yang tepat dengan berbegai pertimbangan yang tidak hanya dilihat dari satu aspek atau pihak saja. Akan tetapi yang pasti dan harus dilakukan oleh seorang guru, bahwa dalam setiap pengambilan keputusan harus berpihak pada murid. Yang tentu saja mempertimbangkan nilai-nilai universal yang berlaku dan berkembang di masyarakat.

Kebijakan pendidikan di Indonesia tentang Wajib Belajar 9 Tahun harus diamankan dan didukung oleh semua pihak. Seorang guru yang berada di Garda terdepan dalam mensukseskan program ini harus benar-benar memahami dengan selalu focus pada kepentingan dan pengembangan potensi murid. Dalam setiap pengambilan keputusan harus benar-benar dilakukan secara bertanggung jawab. Tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil sangat penting karena dalam mengambil keputusan pastinya telah memperhatikan 9 langkah pengambilan keputusan dan pengujian keputusan pada situasi dilema etika tersebut.

 

B.   Tujuan

Aksi nyata ini dilakukan dengan tujuan:

1.   Penerapan pemahaman dan pengetahuan yang didapat selama mempelajari paket modul modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, baik dalam pembelajaran kepada murid maupun melaksanakan tugas lainnya.

2.   Menjadi praktik baik yang diharapkan bisa ditiru oleh rekan sejawat (guru lainnya).

3.   Memberikan pelayanan yang optimal kepada murid melalui pengambilan keputusan yang berpihak kepada murid.

4.   Membantu guru dan murid untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan meningkatkan efektifitas komunikasi dan kolaborasi sesama guru, murid dan juga dengan orang tua/wali murid, serta optimalisasi peran wali kelas dan BK.

5.   Menunjukkan dan meningkatkan kepedulian serta pelayanan kepada murid yang harus ditingkatkan agar amanat negara melalui Undang-undang tentang Program Wajib Belajar 9 Tahun dapat tercapai, namun juga kualitas tetap terjaga.

 

C.   Tolok Ukur

Tolok Ukur dari Aksi nyata ini adalah:

  1. Teratasinya permasalahan yang dihadapi tanpa ada yang merasa dirugikan (pelayanan terhadap murid dan tugas pribadi guru terpenuhi).
  2. Pengetahuan dan pemahaman tentang strategi penyelesaian permasalahan yang dihadapi terkait dengan dilima etika,
  3. Pengelolaan diri terutama manajemen waktu sehingga setiap pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik sesuai dengan prioritas yang ada. 
  4. Munculnya kesadaran sosial yakni dapat membagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya kepada teman-teman sejawat, khususnya dalam satu sekolah.
  5. Adanya keputusan yang diambil secara bertanggung jawab terhadap dilemma etika yang harus diatasi.
  6. Terjalinnya konsultasi, komunikasi dan kolaborasi yang baik dengan seluruh stakeholder yang ada dalam rangka memberikan pelayanan secara optimal kepada murid. 

 

D.  Hasil Aksi Nyata

1.   Terlaksananya dengan baik rancangan Aksi nyata sebagai satu tugas yang harus dilaksanakan Calon Guru Penggerak

2.   Optimalisasi peran guru dalam memberikan pelayanan kepada murid.

3.   Menyelesaikan masalah yang dihadapi di sekolah dengan tidak ada yang merasa dirugikan.

E.   Linimasa Tindakan yang dilakukan

1.   Konsultasi dengan Kepala Sekolah

2.   Komunikasi dan koordinasi dengan guru dan segenap stakeholder yang ada bdi sekolah

3.   Komunikasi dengan murid

4.   Pelaksanaan pengembilan keputusan

5.   Refleksi dan Tindak lanjut

 

F.   Dukungan yang dibutuhkan

1.   Kebijakan Kepala Sekolah

2.   Komitmen Guru dan Tenaga Administrasi

3.   Komitmen murid

4.   Sarana dan Prasarana  

 

G.   Refleksi Model 4 F:

1.   Peristiwa (Facts): Deskripsi singkat Aksi Nyata yang sudah dilakukan, meliputi: latar belakang tentang situasi yang dihadapi, dan yang dilakukan pada Aksi Nyata, serta alasan  melakukan aksi tersebut.

Program Pendidikan Guru Penggerak yang saya ikuti membuat hari-hari terasa cepat karena kegiatan yang begitu padat dan membutuhkan keja dan pemikiran yang ekstra. Saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek sebagai upaya mencetak pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai, peran, kompetensi yang berdampak pada komunitas pembelajaran di sekolah, khsusnya pada murid. Dengan adanya program ini diharapkan murid dapat lebih merdeka dalam belajar dan memiliki profil pelajar pancasila sehingga guru hanya menuntun dan mengarahkan tumbuhkembang murid-muridnya sebagaimana filosofi  pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yang menjadi dasar kurikulum dari Program Pendidikan Guru Penggerak ini. 

Di sisi lain, saya juga masih melakukan kegiatan belajar mengajar meski dilakukan secara kombinasi (Tatap Muka Terbatas dan Daring), dan berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan tugas saya sebagai guru mata pelajaran dan juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Sebagai wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, saya harus mempersiapkan, mengkoordinir kegiatan Pembalajaran, khhususnya bagi Kelas IX dalam rangka merencanakan, dan melaksanakan Ujian Sekolah hingga pengolahan nilai dan kegiatan akhir tahun. Sementara untuk Kelas VII dan VIII harus menyusun pengaturan pembelajaran saat Kelas IX persiapan Ujian. Di samping sebagai guru juga harus melakukan pengolahan nilai untuk kepengingan raport murid yang saya ampu.

Dalam situasi yang demikian, saya mengalami dilema etika di mana program guru penggerak dan tugas-tugas mengajar dan sebagai Wakil Kepala Sekolah yang tetap harus saya ikuti dan laksanakan. Hal tersebut lantas tidak membuat penulis mengeluh, disinilah kemampuan memahami modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran memainkan perannya.

Alasan Aksi Nyata yang saya lakukan:

a.    Menjadi satu tuntutan dan keharusan yang saya lakukan dalam Tugas dan Kewajiban sebagai Calon  Guru Penggerak adalah melakukan Aksi Nyata sesuai dengan Modul yang dipelajari.

b.    Pemahaman dan pengetahuan yang didapat selama mempelajari paket modul harus diterapkan dalam pelaksanaan tugas di sekolah, baik dalam pembelajaran maupun melaksanakan tugas lainnya. Hal ini diharapkan Calon Guru Penggerak menunjukkan pemahamannya terhadap materi dengan memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalaah yang dihadapi.

c.    Penerapan  Ilmu pengetahuan, pemahaman yang didapatkan ini diharapkan benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan tugasnya. Hal ini juga mengandung maksud agar apa yang diperoleh kemudian diterapkan oleh Calon Guru Penggerak menjadi praktik baik yang bisa ditiru oleh rekan sejawat (guru lainnya).

d.    Situasi dan Kondisi negara yang belum stabil megharuskan sekolah sebagai lembaga pendidikan harus selalu siap melakukan perubahan di setiap saat dalam mengadakan pelayanan kepada murid. Pembelajaran yang belum bisa dilaksanakan secara normal, dan masih harus melakukan kombinasi secara daring dan tatap muka terbatas, jelas membutuhkan kecermatan, ketelitian dan kebijakan yang tepat untuk dilaksanakan sekolah. Dalam hal ini, saya selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum selalu aktif untuk berkonsultasi dengan atasan (Kepala Sekolah), Komunikasi dan koordinasi dengan Tim Kurikulum dan juga Seluruh Guru dan Karyawan agar dapat menterjemahkan kebijakan Dinas dan Kepala Sekolah secara tepat dan cepat.

e.    Pembelajaran kombinasi (bahkan untuk Kelas VII dan VIII cenderung lebih dominan daring) memunculkan permasalahan yang cukup pelik dalam memberikan pelayanan kepada murid. Tingkat kedisiplinan murid yang cenderung menurun, keterlibatan orang tua dalam pengawasan belajar murid selama pembelajaran juga kurang optimal. Hal ini memerlukan pemikiran yang tepat agar murid tetap terlayani dengan baik namun juga tuntutan kualitas tetap terjaga.

f.     Membantu guru dan murid untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan meningkatkan efektifitas komunikasi dan kolaborasi sesama guru, murid dan juga dengan orang tua/wali murid, serta optimalisasi peran wali kelas dan BK.

g.    Kepedulian dan pelayanan kepada murid harus ditingkatkan agar amanat negara melalui Undang-undang tentang Program Wajib Belajar 9 Tahun dapat tercapai, namun juga kualitas tetap terjaga.

 

 

 

Hasil Aksi Nyata

a.    Terlaksananya dengan baik rancangan Aksi nyata sebagai satu tugas yang harus dilaksanakan Calon Guru Penggerak

b.    Optimalisasi peran guru dalam memberikan pelayanan kepada murid.

c.    Menyelesaikan masalah yang dihadapi di sekolah dengan tidak ada yang merasa dirugikan.

2.   Feeling / Perasaan

a.    Saat merencanakan aksi nyata, saya dihadapkan dengan paradigma dilema etika jangka pendek lawan jangka panjang dengan memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang sehingga benar jika Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan prioritas dan di satu sisi, juga memberikan pelayanan kepada Murid (pembelajaran) dan juga tugas sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

b.    Dengan bekal elaborasi pemahaman bersama instruktur, berdiskusi dengan fasilitator, serta pendampingan dari Pengajar Praktik dan juga sesama calon guru penggerak, dan belajar secara mandiri, saya melakukan metakognisi terhadap materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengambil prinsip resolusi yakni Berpikir berbasis hasil akhir (End-based thinking). Artinya, keputusan yang diambil untuk kebaikan orang banyak.

c.    Selanjutnya penulis menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Mulai dari mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, melakukan pengujian benar atau salah: Uji Legal (Apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi ini), Uji Regulasi/profesionalitas (Apakah ada pelanggaran peraturan/ kode etik), Uji Intuisi (Menurut intuisi/perasaan kita, apa ada yang salah), Uji Halaman Depan Koran (Apabila hal ini dipublikasikan (warga di luar sekolah tahu), apakah akan merasa malu dan tidak nyaman), dan Uji panutan/idola (apa yang dilakukan orang bijak jika masalah ini terjadi), Pengujian paradigma Benar Lawan Benar, melakukan prinsip resolusi, Investigasi opsi trilemma (Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif lainnya yang tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini), membuat Keputusan dan terakhir melihat kembali keputusan dan merefleksikan. 

d.    Setelah melakukan langkah-langkah di atas, maka saya memiliki optimism dengan memutuskan untuk tetap menjalankan tugas program jangka pendek sebagai guru dan juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan tugas-tugas sebagai calin guru penggerak yang merupakan program jangka panjang artinya tenggat waktu penugasannya lebih lama sehingga penulis dapat melakukannya secara seimbang dengan cara memanajemen waktu secara efektif dan efisien. Alhasil, dengan perasaan penuh semangat penulis dapat melakukan pengimbasan kepada guru dan tenaga kependidikan. 

 

3.   Finding/Pembelajaran

Dari dilema etika yang saya hadapi, maka ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik yakni:

a.    Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus memiliki kompetensi resiliensi (daya lenting) sehingga dapat menghadapi berbagai situasi dan tantangan.

b.    Guru harus memiliki kesadaran diri bahwa ia memiliki tugas dan tanggung jawab yang banyak, maka dari itu hanya dirinya yang memahami bagaimana cara menyelesaikannya.

c.    Guru harus memiliki kompetensi pengelolaan diri terutama manajemen waktu sehingga setiap pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik sesuai dengan prioritas yang ada. 

d.    Guru harus memiliki kesadaran sosial yakni dapat membagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya kepada teman-teman sejawat, khususnya dalam satu sekolah.

e.    Seorang pemimpin pembelajaran harus dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab.

f.     Guru harus secara aktif melakukan konsultasi, komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder yang ada dalam rangka memberikan pelayanan secara optimal kepada murid. 

H.  DOKUMENTASI AKSI NYATA 3.1

Memanfaatkan Saat Apel Pagi Sebelum Kegiatan Belajar Mengajar untuk Sosialisasi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Komunikasi dan Kordinasi Kepala Sekolah dan Panitia Ujian Sekolah mempersiapkan Pelaksanaan Ujian Sekolah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1