MEMUPUK SIKAP KRITIS SISWA MELALUI PROYEK KEWARGANEGARAAN MENUJU PROFIL PELAJAR PANCASILA

 

MEMUPUK SIKAP KRITIS SISWA MELALUI

PROYEK KEWARGANEGARAAN MENUJU PROFIL PELAJAR PANCASILA

*) Suhardi

https://mashardi72.blogspot.com

 

A.    Pendahuluan

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini sangat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Perkembangan tersebut menuntut bangsa dan negara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia demi menjaga eksistensi dan mencapai tujuan negara yang  telah ditetapkan. Agar kualitas sumber daya manusia meningkat sehingga mampu bersaing di masa sekarang dibutuhkan adanya kecakapan pada ketrampilan hard skill dan soft skill. Ketrampilan tersebut diharapkan dapat terwujud melalui pembelajaran yang mampu  

Berdasarkan pengalaman selama pembelajaran PPKn, guru cenderung sebagai model dalam arti masih menerapkan pembelajaran yang bersifat konvensional di mana ceramah menjadi metode utamanya. Hal ini terjadi karena guru masih memprioritaskan pemahaman terhadap konsep materi yang diajarkan. Dengan metode dan model pembelajaran seperti tersebut, secara tidak langsung guru telah melakukan kebiasaan yang menjadikan siswa kesulitan dalam mengembangkan sikap berpikir kritis. Akibatnya adalah siswa kurang mengerti danmemahami materi pembelajaran yang diberikan serta ditunjukkan oleh hasil belajar siswa yang rendah (kurang dari KKM)

Sehubungan dengan masalah tersebut, saya mencoba menerapkan Model pembelajaran Proyek Kewarganegraaan (Project Citizen). Model Pembelajaran Proyek kewarganegaraan pada hakikatnya dimaksudkan untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa melalui “fun learning” (pembelajaran yang menyenangkan) dan aktivitas yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di ruang jekas (Adha, 2010).

Model pembelajaran Proyek Kewarganegaraaan dapat membantu peningkatan berpikir kritis anak adalah model project citizen. Hal ini merujuk pada pendapat Budimansyah, D. (2009:2) project citizen merupakan salah satu instructional treatment yang berbasis masalah untuk mengembangkan pengetahuan, kecakapan, watak kewarganegaraan demokratis yang memungkinkan dan mendorong keikutsertaan dalam pemerintahan dan masyarakat sipil (civil society). Di mana pengetahuan, kecakapan, watak kewarganegaraan  demokratis merupakan dasar yang menunjukkan kita berpikir kritis.

 

 

 

B.     Dasar Pemikian

Pendikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang berperan pneting dalam menciptakan dan mewujudkan smart and good citizenship. Hal ini senada seperti pendapat Djahiri K., (2006:9) yang menegaskan bahwa “pendidikan kewargenegaraan merupakan bnetuk penyatuan pendidikan sosial yang mengharapkan terciptanya warga netara yyang dapat mengambikkeputusan umim secara cerdas, kritis, bertanggung jawab, terampil, dan partisipasif.

 

C.    Rencana Aksi

Sebagai wujud aksi nyata melaksanakan budaya positif bagi siswa dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila melalui Project Citizen (Proyek Kewarganegaran) sebagai upaya untuk memumpuk sikap kritis siswa.

Proyek kewarganegraan  dalam pembelajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1.      Mengidentifikasi masalah kebijakan publik dalam masyarakat

2.      Memilih suatu masalah untuk dikaji oleh kelas

3.      Mengumpulkan informasi yang terkait pada masalah tersebut

4.      Mengembang fortofolio kelas

5.      Menyajikan portofolio [u1] dalam bentuk paparan atau presentasi kelas.

6.      Melakukan refleksi pengalaman berlajar;

 

D.    Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dari aksi ini adalah berkembangnya sikap kritis siswa dalam menghadapi kejadian atau fenomena di masyarajat. Sikap kritis itu ditunjukkan dengan sikap dan perilaku sebagai berikut:

1.  Adanya keinginan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas dan kegiatan yang dilakukan baik di sekolah maupun lingkungan sekitar.

2.  Peduli terhadap fenomena yang ada di sekitarnya seperti terjadinya bencana yang terjadi di sekitarnya

3.  Menyadari hak dan kewajibannya sebagai [u2] anggota masyarakat, bangsa dan negara.

 

 

E.     Deskripsi Aksi

1.      Persiapan

Persiapan yang dilakukan untuk aksi nyata “MEMUPUK SIKAP KRITIS SIWA MELALUI PROYEK KEWARGANEGARAAN MENUJU PROFIL PELAJAR PANCASILA” adalah dengan:

a.       Menyusun Skenario pembelajaran

b.      Mengindentifikasi permasahan yang terjadi di masyarakat dan bersifat kekinian.

c.       Menyusun instrumen penilaian

 

2.      Pelaksanaan

Pembelajaran project citizen berfungsi untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa melalui “fun learning” dan aktivitas yang dilakukan oleh siswa baik di dalam dan di luar kelas (Adha, 2010; Adha, 2018). Minat belajar siswa yang masih kurang di dalam kelas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti siswa yang kurang konsentrasi pada pelajaran, pengaruh kondisi kelas, pengaruh dari lingkungan luar sekolah atau social environment , dukungan guru dan faktor lain. We the People … Project citizen adalah model belajar instruksional yang melibatkan siswa untuk mengkaji permasalahan publik yang ada di sekitar masyarakat. Model belajar project citizen didesain untuk memberikan pengalaman kepada siswa di dalam mengembangkan sikap warga negara berdasarkan tiga komponen warga negara yang demokratis yaitu 1) civic knowledge; 2) civic skills; 3) civic dispositions. Perkembangan informasi dan teknologi terlebih di dalam era industry 4.0 harus didukung dengan kualitas warga negara yang cerdas, kreatif, partisipatif, prospektif, dan bertanggung jawab.

Project citizen di dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sangat efektif di dalam mengembangkan pengetahuan siswa, karena siswa diminta untuk membaca, membuat kliping, mengumpulkan informasi dari buku-buku yang ada di perpustakaan, membaca koran, dan informasi penting lain yang dikumpulkan. Aktivitas siswa di dalam model belajar project citizen melatih dan meningkatkan keterampilan atau kecakapan siswa dalam hal berkomunikasi, berinteraksi, berdiskusi (mengeluarkan pendapat), melakukan koordinasi, bekerja secara efektif di dalam kelompok, dan manajemen waktu (Tolo, 1998). Terkait  dengan watak warga negara, siswa mendapatkan pengalaman melalui pekerjaan yang dilakukannya berupa kebijaksanaan diri, mencari solusi, memberikan masukan, argumentasi, dan membuat keputusan. Komponen yang mencakup pengetahuan, sikap, dan psikomotor menjadi faktor penting yang ingin dikembangkan pada diri siswa melalui model project citizen.

Pembelajaran yang baik harus mampu mengajak peran serta siswa secara aktif dan mampu memberikan perspektif cara berpikir yang lebih luas secara rasional. Ide-ide kreatif dan berpikir argumentative akan muncul apabila siswa diberikan proses belajar dan aktivitas yang melibatkan mereka baik di dalam dan luar kelas. Secara mendasar model pembelajaran project citizen mengaktifkan siswa di dalam dan di luar kelas, sehingga sikap mental dan kemampuan untuk mencari solusi alternatif menjadi poin utama yang harus diperhatikan. Akhir pada model belajar ini adalah menyediakan alternatif kajian atau kebijakan baru yang dapat disampaikan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan di daerah masing-masing. Partisipasi aktif siswa di dalam pembelajaran di dalam mencari dan menggali informasi merupakan konsep inti dari project citizen sehingga siswa terbiasa untuk mengemukakan konsep dan uraian berdasarkan data dan fakta maupun hasil wawancara yang didapatkan.

Secara tidak langsung, project citizen melatih siswa untuk memiliki sikap tanggung jawab selaku warga negara dengan memperhatikan aspek-aspek yang terjadi di lingkungan sekitar siswa. Kepedulian, sikap simpati dan empati tidak terlepas dari konsep belajar bersama-sama baik di dalam dan luar kelas. Seluruh siswa di dalam kelompok memiliki peran masing-masing di dalam menyelesaikan tugas masing-masing yang menjadi tanggung jawab setiap anggota kelompok. Peran-peran tersebut sedikit demi sedikit diupayakan dan diarahkan oleh guru dengan mengimplementasikan konsep belajar yang menyenangkan di dalam kelas sehingga siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing.

Project citizen bertujuan agar siswa berkembang secara positif dan demokratis terlebih di dalam akselerasi era industri 4.0  dengan memaksimalkan penggunaan sumber belajar yang relevan      di dalam aplikasi era industri 4.0. Sumber belajar dan aktivitas siswa tetap berpedoman bahwa aksi dan kerja kelompok siswa adalah untuk membentuk diri siswa lebih berkarakter berdasarkan karakter masyarakat Indonesia yang berbudi luhur dan hidup bergotong royong (social cohesion). Era industry, informasi, dan teknologi yang semakin maju tidak meninggalkan ciri khas kepribadian bangsa Indonesia, justru perkembangan tersebut medorong kolaborasi antara sumber belajar, aktivitas siswa dengan mengadaptasi indikator-indikator pada era industri 4.0. Faktor penting yang lain bahwa pengalaman belajar secara kontekstual mengarah kepada proses belajar yang bermakna (meaningful), terintegrasi (integrated), berbasis nilai (value based), menantang (challenging) dan mengaktifkan (activating) (Budimansyah, 2008).

Pembelajaran berpusat kepada siswa (student-centered learning), dengan kolaborasi pembelajaran (collaborative learning), serta terintegrasi dengan masyarakat adalah hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang mampu mengarahkan dan membentuk karakter peserta didik. Cara-cara seperti (1) flipped classroom, (2) mengintegrasikan media sosial, (3) Khan Academy, (4) project-based learning, (5) moodle, dan (6) schoology, ataupun yang berbasis teknologi lainnya dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran tersebut sehingga peserta didik dekat dengan teknologi dan dapat turut serta mempelajari dan mengimbangi revolusi industri 5.0 pada bidang teknologi.

Selain peran peserta didik dan teknologi, tenaga pendidik yang professional dan berkompeten juga akan sangat berpengaruh untuk masa depan dunia kependidikan di era revolusi industri 5.0. Tenaga pendidik di era society 5.0 harus memiliki keterampilan yang baik dibidang digital dan juga berpikir kreatif. Seorang guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas. Oleh karena itu ada tiga hal yang harus dimanfaatkan pendidik di era society 5.0 seperti yang telah dijelaskan diatas diantaranya Internet of Things pada dunia pendidikan (IoT)Virtual/Augmented Reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang bisa digunakan untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh tenaga pelajar dan peserta didik tentunya.

Selain hal tersebut tenaga pendidik juga harus memiliki kecakapan dan memiliki kemampuan  leadership digital literacy communication entrepreneurship, dan problem solving. Karena zaman yang semakin maju ditambah lagi di era revolusi industri 5.0 disemua sektor akan menjadi lebih maju. Jika dunia Pendidikan tidak dipersiapkan dan mengikuti perkembangan zaman yang begitu pesat, maka pendidikan di Indonesia akan sangat tertinggal jauh. Tenaga pendidik di abad society 5.0 ini harus menjadi guru penggerak yang mengutamakan murid, inisiatif untuk melakukan perubahan terutama untuk peserta didik, mengambil tindakan tanpa ada yang menyuruh, dan terus berinovasi serta keberpihakan kepada peserta didik.

Pada era 5.0, industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana, dikenal dengan istilah Internet of Things (IoT). Industri 5.0 telah memperkenalkan teknologi produksi massal yang fleksibel, mesin akan beroperasi secara independen atau berkoordinasi dengan manusia, mengontrol proses produksi dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan dan penyesuaian produksi. Salah satu karakteristik unik dari industri 5.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Berkembangnya era revolusi industri 5.0 tentunya berdampak dalam dunia pendidikan. Era revolusi industri 5.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dibuat bukan hanya cara mengajar, namun yang terpenting adalah perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum untuk saat ini dan masa depan harus melengkapi kemampuan siswa dalam dimensi pedagogik, keterampilan hidup, kemampuan untuk hidup bersama (kolaborasi) dan berpikir kritis dan kreatif. Mengembangkan soft skill dan transversal skill, serta keterampilan tidak terlihat yang berguna dalam banyak situasi kerja seperti keterampilan interpersonal, hidup bersama, kemampuan menjadi warga negara yang berpikiran global, serta literasi media dan informasi.

Revolusi Industri 5.0 bukanlah hal baru, karena merupakan antithesis dari Revolusi Industri 4.0, era yang kembali pada masa industri. Kolaborasi manusia dan teknologi dan digital semakin nyata. Banyak robot yang sudah mulai diarahkan untuk berkolaborasi dan bersentuhan langsung dengan manusia. Dapat dibayangkan dibidang pendidikan manusia dan robot akan berkolaborasi dalam proses pembelajaran, baik dalam ruang kelas nyata maupun virtual seperti sekarang ini. Peserta didik bisa saja berhadapan dengan robot yang dikendalikan pendidik. Tetapi, dengan adanya sistem yang baru di era ini peran guru tidak akan terganti oleh teknologi. Karena disini terdapat peran guru yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi, diantaranya adalah interaksi secara langsung di kelas, ikatan emosional antara guru dan siswa, dan juga penanaman karakter dan teladan seorang guru.

Di era pandemi virus corona yang sedang melanda bumi manusia ini, era revolusi industri 5.0 dan segala teknologi yang ada pada era ini dirasa sangat membantu. Bahkan sekarang, semua bergantung pada teknologi yang ada. Teknologi bak malaikat dan penolong satu satunya. Dari pembelajaran, belajar dan pemahaman konsep, kemudian bahan ajar dan hasil belajar semua diperoleh melalui teknologi.

Implementasi project citizen di dalam kelas pendidikan kewarganegaraan selain dapat mendekatkan komunikasi antara guru bersama-sama dengan siswa, model belajar ini mampu memberikan suasana belajar yang berbeda kepada siswa. Project citizen sangat tepat diberikan pada usia sekolah menengah, karena pada usia ini siswaa mulai mengembangkan peran dan tanggung jawab moral selaku individu untuk memahami apa yang terjadi di sekitar siswa dan permasalahan yang ada di masyarakat (Nurmalisa & Adha, 2016). Secara ideal, project citizen harus menyediakan ruang partisipasi dan pegalaman praktis bagi siswa sesuai dengan kompetensi dan kemampuan diri siswa itu sendiri agar siswa dapat mengenal peran, tugas, dan fungsi di dalam kehidupan masyarakat. Artikel ini mengeksplorasi keterlibatan berbagai elemen di dalam proses pembelajaran di kelas pendidikan kewarganegaraan dengan mengimplementasikan model belajar

 

 

3.      Refleksi dan Tindak Lanjut

Model project citizen terdiri dari enam langkah antara lain: 1) siswa mengidentifikasi masalah untuk bahan kajian kelas; 2) siswa memilih salah satu masalah dari daftar identifikasi masalah yang telah disusun; 3) siswa mencari data dan informasi, kemudian dikumpulkan sebagai materi untuk mengkaji bahan diskusi kelompok; 4) siswa membuat portofolio (bahan tayangan di atas kertas karton); 5) siswa mempresentasikan hasil diskusi dan analisis kelompok di depan dewan juri; 6) siswa memberikan evaluasi dan pendapat terkait bahan kajian kelas yang telah diitampilkan.

a.  Identifikasi Masalah

Pada langkah yang pertama ini, guru memberikan penjelasan atau arahan kepada siswa untuk menuliskan permasalahan yang ada di sekitar lingkungan siswa atau yang ada di dalam masyarakat. Identifikasi masalah tersebut ditulis oleh siswa di papan tulis dan tidak dibatasi yang akan menuliskan topik, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama. Sejumlah daftar identifikasi masalah dapat dilihat dan dipertimbangkan oleh siswa sebelum masuk pada langkah kedua dari model ini. Secara mendasar, identifikasi masalah yang ditulis oleh siswa di depan kelas merupakan permasalahan yang menurut siswa perlu untuk dikaji dan dicarikan solusi atas permasalahan tersebut. Setelah identifikasi masalah telah selesai ditulis oleh siswa, maka kemudian berlanjut ke langkah yang kedua.

b. Memilih masalah bahan kajian kelas

Langkah kedua dari model project citizen adalah memilih masalah untuk dijadikan bahan kajian atau tema yang didiskusikan oleh kelompok. Satu per satu siswa maju ke depan kelas untuk memberikan voting pada salah satu topik yang dipilih/diinginkan. Setelah para siswa selesai memberikan suara/voting untuk memilih topik/tema utama untuk dijadikan kajian kelas, guru bersama-sama siswa menghitung jumlah voting dari setiap daftar identifikasi masalah yang terdapat di papan tulis. Jumlah suara terbesar dijadikan sebagai bahan kajian kelas, lalu kemudian masing-masing siswa mempersiapkan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan portofolio.

c.  Mengumpulkan informasi.

Langkah ketiga adalah mengumpulkan informasi dan data pendukung lain yang diperlukan untuk bahan diskusi dan bahan analisis yang akan ditempel pada kertas karton sebagai bahan tayangan kelompok. Siswa dapat mencari informasi dari buku-buku di perpustakaan, surat kabar, pegawai kantor, internet, wawancara kepada narasumber, dan sumber-sumber informasi lain yang bisa didapatkan oleh siswa saat berada di lapangan. Pada saat siswa melakukan wawancara, siswa dapat mewawancarai orang tua, kakak, ketua RT/RW, pegawai kantor pemerintahan, dan narasumber lain yang berkaitan dengan tema yang dikaji oleh siswa. Pengumpulan informasi yang dilakukan oleh siswa berdasarkan waktu yang telah ditentukan oleh guru, bahan dan informasi yang terkumpul disusun oleh siswa untuk digunakan saat memasuki langkah keempat yaitu membuat bahan tayangan atau portofolio. Informasi yang dikumpulkan pada tahap ini bertujuan agar kelas dapat memperoleh informasi yang akurat dan komprehensif. Portofolio tersebut akan dibagi dalam dua bagian: bagian tayangan dan bagian dokumentasi.

d. Membuat portofolio kelas

Portofolio atau bahan tayangan yang dibuat siswa pada tahap ini membutuhkan kerja sama siswa untuk menghasilkan portofolio yang bagus dengan didukung uraian informasi yang menjawab permasalahan dan kajian yang dibahas. Kelas akan dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok memiliki peran yang berbeda-beda (akan diuraikan pada bagian kelompok portofolio). Bahan-bahan berupa data dan informasi yang telah dikumpulkan oleh siswa, kemudian disusun dan dibuat dengan kreatifitas masing-masing kelompok untuk ditempelkan pada kertas karton. Dokumentasi yang ditempelkan pada kertas karton ditulis oleh para siswa dalam bentuk deskripsi, diagram, data statistik, gambar atau foto, dan hasil wawancara. Portofolio berukuran kurang lebih 90x100 cm, dan dituliskan tema/topik kajian kelas yang diletakkan pada bagian atas portofolio setelah portofolio kelompok satu sampai dengan kelompok empat disatukan terlebih dahulu. Portofolio sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian tayangan (kertas karton) dan bagian dokumentasi (bahan informasi yang dimasukkan ke dalam map dan diletakkan di bagian depan portofolio kertas karton).

e.  Presentasi portofolio di depan dewan juri

Portofolio yang telah dipersiapkan oleh siswa, maka siswa bersiap-siap untuk kemudian menyajikan bahan tayangan kelompok masing- masing di depan dewan juri dan di depan para undangan maupun siswa lain yang ikut hadir. Presentasi portofolio ini dapat disebut dengan showcase. Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan ide-ide dan hasil analisis yang telah dilakukan. Disini siswa belajar memberanikan diri untuk menyajikan sebuah materi atau konsep di depan dewan juri dan para undangan. Presentasi yang dilakukan harus mampu memberikan keyakinan kepada para undangan yang hadir bahwa argumentasi dan kebijakan yang diambil oleh siswa merupakan hasil analisis dan keputusan yang baik untuk masyarakat di masa depan. Kegiatan (showcase) merupakan puncak penampilan siswa, karena pada tahap ini, hasil pekerjaan siswa akan diuji dan diperdebatkan dihadapan dewan juri.

Tujuan dari presentasi portofolio adalah menyampaikan hasil diskusi kepada para undangan dan siswa sebagai suatu hal yang penting untuk dikaji dengan membawa solusi alternatif yang ditawarkan bagi masyarakat. Pada tahap ini siswa menyajikan beberapa perspektif bahwa dari sebuah kebijakan alternatif terdapat dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat. Aktivitas pada bagian presentasi portofolio, siswa mendiskusikan dengan para hadirin bahwa pilihan kebijakan yang telah dipilih adalah kebijakan yang paling baik untuk menangani permasalahan tersebut. Selain itu para siswa juga harus bisa membuat suatu argumen yang rasional untuk mendukung pemikiran mereka, kebijakan yang dipilih tidak bertentangan dengan UUD 1945. Presentasi portofolio juga bertujuan agar kelas mendapatkan dukungan dari masyarakat, lembaga legislatif, dan eksekutif, lembaga pemerintahan atau swasta atas kebijakan pilihan kelas.

f.   Refleksi pengalaman belajar

Pada tahap ini dilakukan setelah serangkaian presentasi portofolio telah dilaksanakan secara keseluruhan. Siswa kemudian diajak untuk merefleksikan (mengambil hikmah atau manfaat dari aktivitas showcase tersebut), mengevaluasi, memberikan pendapat baik mengenai materi yang dikaji maupun masukan-masukan untuk pelaksanaan kegiatan serupa yang akan dilakukan di waktu yang akan datang. Pada proses ini tentu diharapkan siswa mencapai hasil belajar yang bermanfaat bagi diri mereka secara pribadi. Siswa dapat menyampaikan beberapa hal yang telah dicapai dan bermanfaat bagi diri siswa pada saat refleksi di dalam kelas, seperti: 1) pengetahuan yang bertambah mengenai konsep atau kajian kebijakan publik; 2) Portofolio yang dikembangkan dengan lebih padat informasi berdasarkan pengetahuan siswa tentang kebijakan publik; 3) keterampilan praktis siswa menjadi lebih baik setelah melalui proses keterlibatan di dalam proyek; 4) Siswa merasakan manfaat saat mereka bekerja secara berkelompok dan mendapatkan hasil diskusi yang komprehensif; 5) Siswa mampu mengidentifikasi hal atau aktivitas yang dapat menghambat kerja kelompok saat penyelesaian portofolio; 6) Siswa mampu mengevaluasi hasil pencapaian diri sendiri dan mengevaluasi hasil kerja kelompok; 7) Siswa semakin terlatih untuk mecari solusi alternatif di dalam menyelesaikan permasalahan baik yang ada di sekitar siswa dan masyarakat; 8) Siswa mampu berpikir bahwa pelaksanaan setiap tahap di dalam proyek ini akan memiliki persamaan dan perbedaan di dalam proses pengerjaan di lapangan.

F.        Simpulan

Pendidikan Kewarganegaraan semakin terus berkembang di dalam era transformasi seperti sekarang ini. Dunia digital, perkembangan informasi dan teknologi turut memengaruhi aktivitas yang dilaksanakan di dalam kelas pendidikan kewarganegaraan. Dua poin penting yang menjadi perhatian pendidikan kewarganegaraan yaitu: 1) peserta didik harus memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitar siswa dan lingkungan masyarakat; 2) siswa harus dapat membekali diri melalui proses belajar, interaksi, koneksi, dan komunikasi untuk mempersiapkan diri masuk ke dalam persaingan yang semakin kompetitif di era modern saat ini. Dukungan informasi yang semakin cepat sampai ke tangan mahasiswa melalui smartphone dan gadget membuka kesempatan yang sangat luas bagi mereka untuk mengakses berita dan informasi yang sedang terjadi di Indonesia dan di negara-negara yang lain. Perkembangan infomasi dan teknologi ini yang dapat dimanfaatkan siswa di dalam menyelesaikan proyek melalui model project citizen.

Model project citizen membekali siswa untuk meningkatkan kecakapan individu atau yang disebut dengan life skills. Life skills atau keterampilan hidup dalam pengertian ini mengacu pada berbagai ragam kemampuan yang diperlukan seseorang untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat di masyarakat (Suryadi, 2009; Trilling & Fadel, 2009). Life skills merupakan kemampuan yang diperlukan sepanjang hayat, kepemilikan kemampuan berpikir yang kompleks, kemampuan komunikasi secara efektif, kemampuan membangun kerjasama, melaksanakan peranan sebagai warga negara yang bertanggung jawab, memiliki kesiapan serta kecakapan untuk bekerja, dan memiliki karakter dan etika untuk terjun ke dunia kerja. Model belajar yang informative dan menyenangkan serta mampu mengakses perkembangan dalam skala era industri 4.0 membuat siswa menjadi lebih termotivasi belajar di dalam kelas, dan kemampuan ini harus difasilitasi dengan baik oleh para guru dan pihak sekolah guna mendukung keberhasilan belajar yang maksimal.

 

 

 

References

Adha, M. M. (2010). Model Project Citizen untuk Meningkatkan Kecakapan Kewarganegaraan Pada Konsep Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat. Tesis S2 PKn. Bandung: SPS UPI. Tidak diterbitkan.

Budimansyah, D. (2008). PKN dan Masyarakat Multikultural. Bandung: Program Studi PKn SPs UPI.

Budimansyah, D. (2009). Inovasi Pembelajaran Project Citizen. Bandung: Program Studi PKn SPs UPI.

Charles, F., & Trilling, B. (2009). 21st century skills: Learning for life in our times. San Fransisco: Jossey- Bass.

Djahiri, K. (2006). Pendidikan Nilai Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: Laboratorium PKn FPIPS UPI.

Suryadi, A. (2009). Mewujudkan Masyarakat Pembelajar: Konsep, Kebijakan dan Implementasi. Bandung: Widya Aksara Press.

 

 

 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1