Kumbakarno (Raksasa Yang Satria)

 

KUMBAKARNO (RAKSASA YANG SATRIA)

           


Kebudayaan merupakan salah satu aspek kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan kepribadian suatu masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (2000:120), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik sendiri dengan belajar. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan bentuk perwujudan pribadi seseorang atau kelompok. Terdapat tujuh unsur pokok yang membentuk kebudayaan, antara lain: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian. Tujuh unsur kebudayaan tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk wujud kebudayaan, yaitu: (1) wujud kebudayaan sebagai ide-ide, gagasan, norma, dan peraturan, (2) wujud kebudayaan suatu aktivitas dan tindakan berpola dari manusia di dalam masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

            Wujud kebudayaan sebagai ide-ide, gagasan, norma, dan peraturan yang diwariskan kepada masyarakat lambat-laun dapat luntur bahkan lenyap seiring bertumbuhnya pola pikir masyarakat modern. Berbeda dengan kebudayaan yang berupa gagasan, kebudayaan yang berupa benda-benda hasil karya manusia hingga sekarang masih dapat dinikmati. Peninggalan kebudayaan dalam bentuk yang nyata masih dapat dinikmati karena perkembangan zaman tidak menggerus hasil kebudayaan tersebut. Perwujudan kebudayaan dalam bentuk benda-benda hasil karya manusia antara lain: prasasti, candi, dan wayang.

          

            Diyakininya pewayangan sebagai miniatur penggambaran di dunia oleh masyarakat mengakibatkan adanya implementasi wayang  ke dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi wayang ke dalam kehidupan sehari-hari tersebut, misalnya: penamaan, pengkajian watak, dan pengkajian perilaku seseorang yang dikaitkan dengan tokoh dalam pewayangan. Pengkajian aspek-aspek tersebut didasarkan pada kemiripan watak dan perilaku seseorang dengan tokoh pada pewayangan, misalnya pengkajian watak salah satu tokoh di dalam dunia pewayangan Ramayana, yaitu Kumbakarna.

            Kumbakarna atau yang sering disebut sebagai Arya Kumbakarna adalah putra kedua Resi Wisrawa yang merupakan pendeta yang halus budi pekertinya, sakti, dan termasyur karena keahliannya mengenai berbagai ilmu (Suhardi, dkk, 1994:47). Kumbakarna merupakan adik kandung dari Dasamuka (Rahwana) yang merupakan raja raksasa dari Negara Alengka. Kumbakarna secara fisik merupakan perwujudan raksasa yang sangat tinggi dan mengerikan, tetapi memiliki sifat yang perwira bahkan sering menasehati Dasamuka apabila keliru dalam melakukan sesuatu.

            Kumbakarna adalah raksasa yang lahir dari rahim Dewi Sukesi yang merupakan putri Prabu Sumali dari Negara Alengka. Semula Resi Wisrawa pergi ke Negara Alengka guna melamar Dewi Sukesi untuk putranya, Wisrawana, yang telah menggantikan kedudukannya sebagai raja di Lokapala. Akan tetapi, justru Resi Wisrawa-lah yang mengawini Dewi Sukesi. Perkawinan Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi bukan merupakan suatu tindakan yang disengaja, bahkan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang di luar dugaan. Banyak kisah yang menceritakan tetang ketidaksengajaan perkawinan Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi yang kemudian melahirkan empat orang anak. Tiga di antara anak mereka berwujud raksasa, hanya Wibisana yang tidak berwujud raksasa.

            Ketika dewasa, Kumbakarna tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Meskipun berwujud raksasa, putra kedua Begawan Wisrawa tumbuh menjadi pemuda yang berjiwa ksatria, berwatak jujur, dan berani karena benar. Watak Kumbakarna tersebut yang menuntunnya untuk menuruti perintah Resi Wisrawa agar bertapa di Gunung Gohkarna selama sepuluh ribu tahun. Dari hasil tapabratanya, Kumbakarna dianugerahi bidadari cantik dari kahyangan yang bernama Bathari Kisarani atau Dewi Aswani dan memperoleh ajian Cirakalasupta. Di dalam cerita Ramayana dikisahkan bahwa Kumbakarna dan Dewi Aswani memperoleh dua putra, yaitu Kumbakumba dan Aswanikumba.

            Seluruh anggota keluarga Kumbakarna mendiami Negara Alengka yang dipimpin oleh kakak tertua Kumbakarna, yaitu Dasamuka. Suatu ketika, Dasamuka merebut Dewi Sinta dari sisi Sri Rama sehingga mengakibatkan Sri Rama murka dan menyerang Alengka. Direbutnya Dewi Sinta oleh Dasamuka menimbulkan kegelisahan terhadap diri Kumbakarna dan Wibisana. Kumbakarna dan Wibisana menasihati Dasamuka agar menyerahkan kembali Dewi Sinta kepada Sri Rama agar kelak tidak akan terjadi pertumpahan darah antara Sri Rama dan Dasamuka. Akan tetapi, nasihat kedua adik Dasamuka tersebut sama sekali tidak dihiraukan. Mereka bahkan dicaci-maki oleh Dasamuka yang kemudian berujung dengan pengusiran Kumbakarna dan Wibisana dari Negara Alengka.

            Diusirnya Kumbakarna dan Wibisana dari Alengka menyebabkan kedua ksatria tersebut marah dan bersumpah tidak akan membela Dasamuka dalam kasus perebutan Dewi Sinta dari tangan Sri Rama. Diusirnya Kumbakarna membuat dirinya harus kembali ke Negara Leburgangsa, sedangkan Wibisana justru bergabung dengan Sri Rama untuk bertindak sebagai penasihat siasat perang Sri Rama guna menghancurkan kesewenang-wenangan Dasamuka.

            Pertempuran antara Sri Rama dengan Negara Alengka yang dipimpin oleh Dasamuka pun tidak terelakkan. Banyak korban yang mati sia-sia akibat keserakahan Dasamuka, termasuk paman Kumbakarna, yaitu Patih Prahasta dan kedua putra Kumbakarna, yaitu Kumbakumba dan Aswanikumba. Gugurnya Kumbakumba dan Aswanikumba mengakibatkan Kumbakarna murka dan terpaksa turun ke medan perang. Turunnya Kumbakarna ke medan perang disebabkan oleh rasa cintanya terhadap Negara Alengka yang mengalami kehancuran ketika dipimpin oleh Dasamuka.

            Keputusan Kumbakarna untuk turun ke medan perang mengagetkan Wibisana yang semula berpikir bahwa kakak keduanya tidak akan turut campur dalam peperangan. Wibisana mencoba menasehati Kumbakarna agar ia tidak terus melanjutkan tekadnya untuk memerangi Sri Rama. Kumbakarna menjelaskan bahwa ia tidak memerangi kebenaran, tetapi ia berperang untuk rasa kecintaannya terhadap Negara Alengka. Kecintaan Kumbakarna kepada Negaranya mengakibatkan Kumbakarna menemui ajalnya ketika panah Sri Rama dan Lasmana menghajar tubuhnya hingga berkeping-keping.

            Keputusan dan tekad Kumbakarna untuk maju ke medan perang merupakan cerminan dari sifat ksatria yang ia miliki. Meskipun raksasa, Kumbakarna tetap memiliki jiwa ksatria yang melahirkan sifat-sifat jujur dan berani apabila ia benar. Sifat-sifat Kumbakarna tersebut mengidentifikasi pribadinya sebagai raksasa, tetapi tetap berpendirian. Perwujudan sifat-sifat Kumbakarna berdasarkan cerita Ramayana dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu memberi pelajaran bagi masyarakat.

            Berdasarkan uraian cerita Ramayana dan kehidupan Raden Arya Kumbakarna, banyak nilai keteladanan yang perlu dicontoh dan pantas untuk diaktualisasikan dalam hidup bermasyarakat. Nilai-nilai yang dapat dicontoh dari tokoh pewayangan Kumbakarna antara lain nilai kearifan, kasih sayang, dan ketekunan.

1.  Kearifan Satria Pembela Negara

        Sikap kearifan Kumbakarna terlihat ketika Negara Alengka diserang oleh Sri Rama dan bala tentaranya. Dalam keadaan yang terdesak, Dasamuka memohon bantuan kepada Kumbakarna, tetapi Kumbakarna menolak karena Kumbakarna mengerti bahwa pihak yang salah dalam peperangan guna memperebutkan Dewi Sinta adalah Dasamuka. Akan tetapi, Kumbakarna tetap terjun ke medan perang karena sifat ksatrianya dalam membela negara. “Hoo, Dewaa, saksikanlah! Aku akan maju ke medan perang bukan membela orang sesat, melainkan membela negara, leluhur, dan bangsaku.” Pernyataan tersebut yang terucap ketika Kumbakarna membulatkan tekad untuk melawan Sri Rama dan bala tentara keranya (Suhardi, dkk, 1994:79).  Penyataan Kumbakarna merupakan wujud kearifannya sebagai kstaria pembela negara yang perlu diteladani sebagai warga negara yang baik.

2.  Kasih Sayang

        Selain sebagai ksatria yang arif dalam membela negara, Kumbakarna juga memiliki nilai kasih sayang yang tinggi. Nilai kasih sayang yang dimiliki Kumbakarna tecermin pada setiap nasihatnya kepada kedua anaknya dan kakak tertuanya, Dasamuka. Kumbakarna senatiasa menasihati saudara-saudaranya apabila melakukan kesalahan, seperti yang dilakukannya ketika Dasamuka menculik Dewi Sinta. Perbuatan Dasamuka tersebut mengakibatkan adanya pertempuran antara Negara Alengka dengan Sri Rama yang berujung dengan kematian Kumbakarna.

3.  Ketekunan

Nilai ketekunan yang dimiliki Kumbakarna tecermin ketika ia harus bertapa di Gunung Gohkarna selama sepuluh ribu tahun. Ketekunan Kumbakarna mampu mendatangkan hadiah bidadari dari kahyangan yang kemudian menjadi istrinya. Selain memperoleh hadiah bidadari, Kumbakarna juga memperoleh sebuah ajian Cirakalasupta sehingga Kumbakarna mampu tidur hingga ratusan tahun tanpa terbangun.

Banyak nilai-nilai filosofi yang dapat diambil dari watak tokoh Kumbakarna yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Nilai-nilai dan simbol-simbol yang terdapat di dalam pewayangan merupakan perwujudan dari masalah-masalah kehidupan yang diulas melalui karya seni. Tokoh-tokoh pewayangan dapat menginspirasi dan memberi pelajaran tentang kearifan hidup manusia. Kisah-kisah di dalamnya mengandung banyak nilai luhur dan dapat menjadi tuntunan hidup, membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kata lain, berbagai unsur  pewayangan mampu menjadi bahan renungan dalam menyikapi hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1