BLENDED LEARNING WUJUDKAN KEMANDIRIAN DAN KREATIFITAS SISWA MENUJU MERDEKA BELAJAR
BLENDED LEARNING WUJUDKAN KEMANDIRIAN
DAN KREATIFITAS SISWA MENUJU MERDEKA BELAJAR
*Suhardi, SMP N 1 Muntilan
A. Latar Belakang
Salah satu point penting konsep Merdeka Belajar seperti yang ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah guru dan siswa memiliki kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar secara mandiri dan kreatif.
Hal ini sejalan dengan konsep filosofis Ki Hajar Dewantara. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya. Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya bisa terwujud manakala seseorang bebas dalam mengapresiasikan atau mengungkapkan segala yang dirasa dan dipikirkan tanpa tekanan dari pihak manapun.
Tidak bisa dipungkiri, banyak terjadi dalam pembelajaran di masa Pandemi yang hingga sekarang ini masih banyak membebani siswa dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa ini dapat membenggu untuk mewujudkan merdeka belajar.
Hal ini tentu saja menjadi tantangan : bagaimana sebagai guru mewujudkan merdeka belajar untuk dapat melepaskan belenggu pada diri siswa. Kemandirian dan kreatifitas siswa harus mendapat perhatian lebih agar menjadikan pembelajaran bermakna bagi siswa.
Berdasarkan hal tersebut, menjadi sangat penting bagi seorang guru untuk berupaya membangun kemandirian dan kreatifitas siswa melalui berbagai strategi, model dan metode yang diterapkan dalam pembelajaran.
Seperti halnya pendidikan pada masa sekarang ini, saat siswa dan sebagian guru telah “merasa nyaman” dengan pembelajaran daring, ketergantungan terhadap orang lain dan sesuatu menjadi kian tinggi. Kreatifitaspun menjadi tidak berkembang karena segalanya terlaksana begitu saja tanpa
Berdasarkan hal tersebut saya mengangkat aksi melalalui strategi “Blended Learning”. Blended Learning merupakan istilah daribahasa Inggris yang terdiri dari dua kata yaitu “blended” yang berarti campuran, kombinasi yang baik, dan “learning” yang berarti pembelajaran. Dengan strategi ini saya berharap kemandirian dan kreatifitas siswa menjadi meningkat. Aksi nyata ini saya beri jurul “Wujudkan kemandirian dan kreatifitas siswa melalui Blended Learning menuju Merdeka Belajar”
B. Dasar Pemikiran
Sistem pendidikan nasional di Indonesia memiliki fungsi dan tujuan untuk
membekali dan menjadikan peserta didik yang berakhlak mulia sekaligus memiliki
kepribadian yang baik. Hal itu selaras dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 BAB II pasal 3 yang menjelaskan bahwa pendidikan nasional Indonesia berfungsi dan bertujuan
untuk mewujudkan peserta didik yang memiliki kemampuan dan watak yang baik guna
mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memiliki tujuan mengembangkan potensi siswa
sebagai insan yang bertaqwa, memiliki akhlak yang baik, memiliki ilmu, cakap,
memiliki kreativitas dan kemandirian serta mampu menjadi masyarakat yang mamu
bermusyawarah dan tanggungjawab. Tujuan pendidikan di Indonesia adalah
meningkatkan akhlak mulia pada siswa.
Pengembangan akhlak mulia pada diri peserta didk dapat dilakukan terintegrasi dalam
kegiatan belajar mengajar. Terdapat beberapan contoh dari akhlak mulia yang dapat dikembangakan seiring dengan terlaksananya proses kegiatan belajar mengajar, diantaranya adalah kreatif dan mandiri. Pengembangan akhlak tersebut tentunya memiliki tujuan tersendiri untuk menjadikan peserta didik yang berkarakter serta mampu berperilaku baik. Pengembangan akhlak mulia dapat dilakukan melalui proses pembelajaran.
Kegiatan belajar mengajar mampu mendorong siswa untuk aktif dapat menyokong
peluang bagi siswa untuk mengembangkang karya, potensi, minat, bakat yang dimiliki,
hal tersebut selaras dengan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 pasal 19 Ayat 1.
Oleh karena itu melalui kegiatan belajar mengajar sikap atau akhlak kreatif dan mandiri
pada peserta didik dapat dikembangkan agar peserta didik dapat berkembang secara
maksimal.
Sikap dan pola pikir anak tidak terikat oleh nalurinya yang menetap, sebaliknya dia memiliki kemungkinan untuk berubah dan memiliki kebebasan untuk tumbuh dan berkembang. Sekolah mempersiapkan individu-individu yang tangguh, kreatif, inofatif, dan peka terhadap perkembangan teknologi informasi untuk mengarungi kehidupan masa mendatang yang
semakin kompleks dan penuh tantangan.
Perkembangan kemandirian peserta didik menuju ke arah yang lebih
baik menjadi sangat penting untuk dilakukan secara serius, sistematis, dan
terprogram. Pembelajaran masa pandemi seperti sekarang ini, sangat penting artinya menumbuhkan dan mengembangkan sikap kemandirian pada siswa. Hal ini perlu dilakukan agar siswa tidak tergantung pada diri orang lain.
Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.
Blended learning memberikan kesempatan yang terbaik untuk belajar dari kelas transisi ke elearning. Blended learning melibatkan kelas (atau tatap muka) dan belajar online. Metode ini sangat efektif untuk menambah efisiensi untuk kelas instruksi dan memungkinkan peningkatan diskusi atau meninjau informasi di luar ruang kelas.
C. Rencana Aksi
Langkah-langkah Aksi
Merumuskan tujuan pembelajaran yang mengarah pada kemandirian dan kreatifitas siswa.
Menentukan dan menyusun materi ajar untuk mendukung tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
Menentukan hingga mengembangkan model ataupun strategi pembelajaran yang mampu mengembangkan kemandirian dan kreatifitas siswa
Membuat media pembelajaran yang mampu merangsang kemandirian dan kreatifitas siswa.
D. Indikator Keberhasilan
Aksi nyata yang dilakukan dalam pembelajaran kelas IX
Siswa dapat merasa dan menikmati pembelajaran yang dilakukan.
Siswa merasa senang dengan pembelajaran yang ditunjukkan dengan keterlibatan.
Siswa mempunyai semangat dan tertarik dengan pembelajaran yang dilaksanakan
Siswa menghasilkan karya secara mandiri dengan kreativitas masing-masing sesuai dengan minat dan kemampuan yang akan dikembangkan.
F. Deskripsi Aksi
Konsep pendidikan “merdeka belajar” memiliki fokus pada pengembangan kemampuan kognitif siswa.
Kondisi yang menyenangkan, aman, dan nyaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex (otak berpikir) dan mengoptimalkan proses belajar mengajar serta meningkatkan kepecayaan diri anak. Suasana kelas yang kaku, penuh beban,guru yang kurang menyenangkan akan menurunkan fungsi otak anak dan anak tidak berpikir efektif, reaktif atau agresif.
Merdeka belajar adalah suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim adalah pencetus program merdeka belajar. Merdeka belajar bertujuan agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia saat belajar.
Merdeka belajar adalah proses pendidikan yang harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan. Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.
Di sinilah kita sebagai pendidik harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. Diperlukan waktu yang cukup serta kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya.
Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik.
Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna. Aksi nyata yang penulis laksanakan merupakan rangkaian aktivitas sebagai berikut:
1. Persiapan Aksi
Aksi nyata “Wujudkan kemandirian dan kreativitas siswa melalui Blended Learning menuju Merdeka Belajar” dilaksanakan dengan beberapa langkah sebagai berikut:
Penyusunan Rancangan tindakan Aksi
Langkah awal yang dilakukan guru adalah melakukan berbagi persiapan diantara guru menyusun sebuah rancangan aksi nyata yang terintegrasi pada waktu proses pembelajaran. Di mana pembelajaran yang dilakukan adalah kombinasi Tatap Muka dan pembelajaran daring. Rencana Perangkat Pembelajaran kemudian disusun dan diselaraskan dengan kondisi lingkungan sekolah yang menerapakan pembelajaran Kombinasi Tatap Muka dan Daring dengan materi mengacu pada Kurikulum Nasional sebagaimana tercantum dalam Dokumen Kurikulum Sekolah (KTSP).
Penentuan waktu kegiatan
Perencanaan Aksi : tanggal 8 – 10 Nopember 2021
Pelaksanaan Aksi : tanggal 11 -19 Nopember 2021
Refleksi : tanggal 20 – 22 Nopember 2021
Penyusunan perangkat pembelajaran
|
|
Guru melakukan persiapan pembelajaran dengan mnyusun perangkat dengan Blended Learning dalam hal ini yang dimaksudkan adalah campuran pembelajaran tatap mukan dan daring.
2. Pelaksanaan Pembelajaran
|
|
Beberapa contoh karya siswa dalam berbagai bentuk (video, poster, ppt, dan lain-lain).
3. Refleksi dan tindak lanjut
Setelah Siswa menerima penjelsan materi dan tugas yang harus dikerjakan, kemudian melakukan pembelajaran secara mandiri dengan memahami kembali materi dari berbagai sumber dan media. Pengajaan dilakuan di rumah secara -ma-ndiri sesuai kreativitas masing-masing.
Siswa melakukan testimoni dengan melakukan refleksi diri setelah mengerjakan tugas sesuai dengan karya yang dihasilkan. Reflesksi dilakukan secara tertulis dan dikirim k-e -guru. Beberapa contoh refleksi tertulis yang dilakukan dapat dilihat seperti berikut:
|
|
G. Indikator Keberhasilan Aksi Nyata
Aksi nyata yang dilakukan dalam pembelajaran kelas IX
Siswa dapat merasa dan menikmati pembelajaran yang dilakukan.
Siswa merasa senang dengan pembelajaran yang ditunjukkan dengan keterlibatan.
Siswa mempunyai semangat dan tertarik dengan pembelajaran yang dilaksanakan
H. Simpulan
Pembelajaran dengan% blended learning (kombinasi Tatap Muka dengan Daring) ini bisa dimaksimalkan oleh guru untuk memungkinkan siswa belajar lebih mandiri dan kreatif. Belajar tidak terikat waktu dan tempat bisa kapanpun dan di manapun sesuai kesanggupan siswa, dan ini bisa jadi solusi terbatasnya waktu di kelas yang sering jadi keluhan sebagian guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pada akhirnya model pembelajaran dengan blended learning bisa menjadi alternatif yang bisa dilaksanakan guru dalam pembelajaran dan bisa memungkinkan siswa dapat merdeka dalam belajar karena dengan blended learning selain siswa belajar di kelas secara biasa, siswa juga secara online dapat belajar secara mandiri, bebas mencari sumber bahan dan informasi untuk menyelesaikan tugas kelas, mandiri menggunakan gadget sebagai media dan sumber belajar sesuai kecenderungan anak-anak milenia yang lebih senang belajar dengan gadget. Siswa juga bisa berkreasi sesuai kemampuan dan kegemarannya dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Pembelajaran secara online terus menerus akan berpengaruh pada karakter anak maka diperlukan kombinasi dengan face to face jadi menurut saya cocok dikombinasikan antara online dan tatap muka langsung ...tetap semangat 🙏🙏
BalasHapus