MERAMU HASIL BELAJAR “PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN”
MERAMU HASIL BELAJAR “PENDIDIKAN
YANG MEMERDEKAKAN”
(Suhardi, CPP Angkatan
9 Kelas 38 Kab. Magelang)
Pemahaman tentang filosofi pendidikan Ki Hajar
Dewantara yang menjadi landasan transformasi pendidikan Indonesia yang berpihak
pada anak, sebagai berikut:
1.
Makna dari kata ‘menuntun’
Pendidikan
yang dapat menuntun segala kodrat yang di miliki oleh anak agar dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun
sebagai anggota masyarakat. Konsep pendidikan ini menjadi sangat esensial
karena sesungguhnya pendidikan diharapkan menuntun (bukan memaksakan) kodrat
yang sudah ada pada diri anak agar dapat dikelola, dikembangkan dan
diberdayakan agar dapat memberi manfaat baik bagi dirinya sendiri dan
lingkungannya
2.
Peran menuntun sesuai sistem among
Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan kebudayaan,
tentunya yang sesuai dengan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah sistem
among, yaitu metode pengajaran yang berjiwa kekeluargaan yang berdasar kodrat
alam dan kemerdekaan.
Guru sebagai “Pamong” atau “Pemomong” atau “Panutan” bagi siswanya sehingga
siswa merasa dilindungi, aman, dan mempunyai panutan untuk dicontoh. Dalam hal
ini interaksi dengan siswa, guru dan warga sekolah sangat baik apabila guru
benar-benar sebagai “Pemomong”, karena sifat ini memberikan rasa aman, nyaman
sehingga siswa senang belajar. Misalnya dalam sekolah atau kelas mengucapkan
salam kepada semua siswa sebelum dan setelah pembelajaran. Selain itu juga hal
positif yang dapat dilakukan adalah berdoa sebelum dan sesudah belajar serta
budaya salaman. Alhamdulillah pada masa pandemi diganti dengan
"Namaste" yaitu mengatupkan kedua tangan di depan dada, kini salaman
sudah dapat dibudayakan lagi kepada sesama siswa, guru, kepala sekolah, warga
sekolah, bahkan dengan siapapun apabila bertemu.
3.
Makna dari “merdeka”
Setiap
individu dikarunia bakat dan minat yang berbeda, karena itu setiap individu
dalam negara merdeka harus merdeka mengejar mimpi indah mereka tentang masa
depan yang mereka cita-citakan. Setiap individu di negeri ini wajib berkontribusi
dalam pembangunan bangsa melalui maksimalisasi talenta dan bakat mereka.
Merdeka
belajar adalah jembatan emas yang menghantarkan setiap individu untuk
memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara dengan riang gembira. Merdeka
untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari kemiskinan, dan keterbelakangan
4.
Kodrat anak tentang bermain yang adalah sama dengan
belajar
Anak
memang identik dengan bermain. Di zaman sekarang ini, di saat pandemi melanda
anak-anak malah sibuk main gadget. Memberi kebebasan anak-anak bermain gadget
sama saja mengajari anak untuk kecanduan narkoba tetapi dalam bentuk lain. Jika
anak sudah kecanduan smartphone, efeknya merusaknya sama buruknya dengan
kecanduan narkoba. Anak-anak yang sudah terlanjur kecanduan gadget akan membuat
orang tua lebih susah dalam mendidiknya. Sebagai guru, kita harus belajar
seperti sistem Taman Siswa. Menggabungkan metode Montesori dan Frobel.
pelajaran panca indra dan permainan itu tidak dipisah, yaitu dianggap satu.
Sebab, salam Taman Siswa terdapat kepercayaan bahwa dalam segala tingkah laku
dan segala kehidupan anak-anak tersebut sudah diisi Sang Maha Among
(Pemelihara) dengan segala alat-alat yang bersifat mendidik si anak.
5.
Pendidikan yang berpihak / menghamba pada anak
Seorang guru harus ‘menghamba kepada anak” yang berarti
memberikan pelayanan yang optimal bagi tumbuh kembang anak, dengan
mempertimbangkan segala hal yang mendukung dalam memfasilitasi dan memotivasi
proses anak membangun pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Dalam proses
pembelajaran, pendidik harus memahami murid dari segala aspeknya. Pendidik
harus memandang seorang murid sebagai manusia yang mempunyai bakat, minat
dan potensi masing-masing. Tugas guru adalah memfasilitasi, menuntun tumbuh
kembangnya potensi tersebut. murid seharusnya dijadikan subjek pendidikan.
bukanlah objek pendidikan yang dapat diperlakukan seenaknya dan
diperintah-perintah semaunya. Memaknai hal ini, seorang guru harus merancang
pembelajaran sedemikian rupa agar murid tersebut dapat menggali informasi,
mengamati, mempraktikkan, dan mengomunikasikannya sendiri.
6.
Konsep budi pekerti
Pengertian
budi pekerti adalah kesadaran perbuatan atau perilaku seseorang. Dari segi
etimologi kata, istilah budi pekerti adalah gabungan dari dua 2 kata yaitu budi
dan pekerti.
Arti
kata budi sendiri adalah sadar, nalar, pikiran atau watak. Sedangkan arti kata
pekerti adalah perilaku, perbuatan, perangai, tabiat, watak. Yang jika
disimpulkan bahwa budi pekerti merupakan sesuatu yang berkaitan sangat erat
mengenai karakter manusia baik dalam sifat maupun perbuatan, yang dilakukan
dengan kesadaran.
Sedangkan
pengertian budi pekerti menurut KBBI adalah tingkah laku, akhlak, perangai atau
watak. Dalam bahasa Arab, istilah budi pekerti sendiri disebut dengan akhlak
dan dalam bahasa Inggris disebut dengan ethic, yang artinya adalah etika.
Penerapan
budi pekerti dalam kehidupan sehari memberi pengaruh positif bagi lingkungan.
Ketika setiap individu menunjukkan perilaku baik maka orang lain juga akan
menilai orang tersebut sebagai orang yang baik.
Perilaku
yang baik ini bisa ditunjukkan melalui kebiasaan yang sederhana, misalnya
dengan bersikap sopan, membiasakan diri dengan senyum dan sapa atau sering
menggunakan kata tolong, maaf dan terimakasih.
7.
Anak bukan tabularasa
Teori
tabula rasa ini menjadi salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah kita pada saat ini. Dengan asumsi bahwa anak adalah
sebuah kertas kosong, maka tugas utama guru dan proses pendidikan adalah
mengisi kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting
bagi anak-anak. Padahal hal tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Bagiku,
anak-anak adalah individu dengan segala sifatnya. Memang ada bagian individu
pada anak-anak yang belum berkembang seperti orang dewasa. Tetapi, individu itu
bukan kertas kosong yang pasif menerima apapun pengaruh dari lingkungannya.
Ketika
kita memandang anak sebagai individu, itu akan membuat proses pendidikan yang
kita lakukan berbeda dibandingkan jika kita memandang anak sebagai kertas
kosong. Dengan memandang anak sebagai individu, kita lebih melibatkan anak
dalam proses pendidikan untuk dirinya sendiri; kita mendengarkan dan
memperhatikan pendapat mereka serta menjadikannya sebuah hal yang penting dalam
proses pendidikan anak.
8.
Analogi petani untuk menjelaskan kodrat anak
Pendidik
dan peserta didik haruslah memiliki hubungan mutualisme yaitu sama-sama saling
menguntungkan. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam
yang membutuhkan tangan dingin guru yang diibaratkan sebagai petani. Walupun
bibit itu adalah bibit unggul namun di tangan petani yang kurang perhatian maka
pertumbuhan bibit itu tidak akan optimal. namun jika bibit itu bukan bibit yang
berkualitas tapi dirawat oleh petani yang baik yang benar-benar memperhatikan
pertumbuhan dan perkembangan, maka bibit itu akan tumbuh dengan baik.
9.
Pemahaman tentang Pendidikan yang Memerdekakan menurut pemikir -
pemikir yang selaras dengan pemikiran KHD dan menjadi acuannya (Metode
Montessori dan Taman Anak Frobel)
Metode
montessori adalah cara belajar yang berfokus pada kearifan anak.metode ini
menawarkan pembelajaran langsung dengan praktikdan permainan
kolaboratif,berbeda dari metode tradisional cenderung pasif.Pada kelas
montessori anak-anak akan di berikan kesempatan untuk memutuskan apa yang
mejadi mereka. Thenik belajar ala montessori kini banyak berkembang,metode
montessori adalah sebuah sistem pendidikan yang membantu setiap anak meraih
potensinya disemua bidang kehidupan. Metode montessori mengajarkan 5 bidang
utama,mulai kemampuan berbahas,konsep matematika,budaya sensorik dan kemampuan
sehari-hari.Metode montesseri akan membuat anak di latih untuk berkomunikasi.
Da;am pembelajaran monttesori anak-anak diajarkn untuk mengantri sikap sopan
santun,tata krama dan kebaikan,kemampuan ini akan melatih emosional intellagent
mereka sehingga mereka akan lebih siap berada dilingkungan dan bersosialisasi.
Pendidikan yang di laksanakan saat ini selaras dengan apa yang diharapkan oleh
KI Hajar Dewantara, di mana metode Montesori, Frobel dan Taman anak menyatakan
bahwa dunia anak identik dengan bermain, dan di dalam bermain itu sesungguhnya
seorang anak sedang belajar. di dalam bermain telah melatih kemampuan seorang
anak baik kemampuan panca indra maupun kemampuan psikomotoriknya. hal inilah
yang harus dipahami oleh seorang guru.
10. Kaitan filosofi dan
prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk
profil Pelajar Pancasila
Pemikiran
filosofis Ki Hadjar Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia
pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari
pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara juga
mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam
belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan
arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar,
berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Profil
Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia.
Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi
diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter
anak di ruang belajar yang lebih kecil. Pelajar Pancasila disini berarti
pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai
Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh
keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah:Beriman, bertakwa kepada Tuhan
yang Maha Esa dan berakhlak mulia; Mandiri;Bergotong-royong; Berkebinekaan
global; Bernalar kritis; Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu
buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka
profil ini akan menjadi tidak bermakna.

Komentar
Posting Komentar