Meluruh Asa

 

Sorak sorai telah selesai

Meski asa belum juga kugapai

Sekujur tubuh mulai lunglai 

Tersemat dalam langkah yang gontai

 

 

Tak jelas langkah mengarah

Meski tegas tanpa tujuan yang jelas

Hanya ikuti inginnya hati

Yang masih tersembunyi hingga kini

 

 

 

 

Semua tak sama
Kita tak berbeda
Namun, kenyataan tak seindah mimpi
Waktu menunjukkan realitanya dengan pasti

Tak ada dunia bagimu yang hanya meminta
Sulit bagimu bertahan jika tidak berusaha
Menolak menyerah adalah pilihan diri
Lalu, untuk apa kau sesali?

Jalani saja dengan sepenuh hati
Biarkan waktu yang menjawab impian diri
Terus berjuang tanpa henti
Demi meraih cita-cita diri

 

 

Sorak sorai telah usai
Rangkaian asa kini terurai
Diiringi senyuman kusut masai
Niat hati yang tak sampai

Satu kalimat tampak membelit
Menelan pahit
Memusnahkan rasa sakit
Namun semakin kuat melilit

Riuh redam gejolak emosi
Berpadu menentang ekspektasi
Menggelorakan kecewa di sisi sunyi
Memungkiri perih patah hati

 

 

Entah berantah,

Diatas harapan  tidak pasti,

Menjadi dilema yang di nanti,

Terkadang hati tak berjiwa,

Selalu berkata dan bertanya tanya,

Kepada diri sendiri,

Ada apa dengan ku ini?.

 

Melihat ke atas,

Terpandang awan yang kosong,

Membuat warna di dalam jiwa Menjadi tak tertolong,

Aku pun bertanya lagi,

Di mana aku?.

 

Teriakan burung burung senja Menghantui diri ini,

Yang sudah terkapar di dalam heningnya orange di sore hari,

Diam dan tertutup,

Kaku tak menentu,

Lemas dan tersudut,

Semua ekspresi muram tergambar ketika itu,

Entah serasa tidak mengenal tempat tinggal diri sendiri.

 

Diam…diam…diam,

Hanya itu yang bisa di gambar dari ku,

Menatap hari yang tidak pasti,

Bagai melihat jalan yang tak terjarahi,

Semua kepasrahan ada di dalam lubuk hati ini.

 

Andai…waktu bisa terulang kembali,

Tetapi, itu suatu hal yang tak mungkin terjadi,

Yang bisa dilakukan hanya terus berlari

Hadapi apa yang terjadi,

Untuk mengejar suatu yang harusnya di nanti-nanti.

 

Ingat…

Percuma kita berdiam diri,

Memandang suatu masalah yang ada dalam diri,

Meratapi kehidupan yang terbilang sengsara ini,

Hiduplah sekali hiduplah yang berarti,

Karena ini garis takdir hidup yang harus dijalani.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1