OPTIMALISASI POTENSI MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
OPTIMALISASI POTENSI MURID
MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Oleh : Suhardi, Guru SMPN 1
Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Banyak hal yang menjadi hambatan
sekaligus tantangan bagi etiap guru saat melakukan Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ) ini. Hambatan itu diantaranya adalah karena ketidaktahuan guru terhadap
karakteristis siswanya, di mana telah sekian lama melakukan komunikasi secara
daring sehingga kesulitan untuk mengenalinya. Namun di sisi lain, hal ini
menjadi sebuah tantangan bagi guru untuuk meningkatkan kreatifitasnya dalam
melakukan pembelajaran. Banyak yang telah dilakukan guru dengan berbagai
media,model, dan metode pembelajaran yang telah dilakukan ini guna tetap
meningkatkan efektifitas pembelajaran.
Namun demikian ada hal yang mungkin
bagi kebanyakan guru (termasuk penulis) belum laksanakan, yaitu melakukan
pembelajaran berdiferensiasi. Apa, mengapa, dan bagaimana pembelajaran
beriderensiasi itu? Tulisan berikut akan menjawab pertanyaaan tersebut.
A.
Pembelajaran Diferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi
dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa
tersebut.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan yang disusun secara
sistematis oleh guru agar mampu mengakomodir seluruh kebutuhan murid yang
berbeda di dalam kelas atau lingkungan sekolah. Sebagai guru, tentunya dipahami
bahwa jumlah murid yang diajar di dalam kelas memiliki keberagaman tersendiri
karena sejatinya setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Dengan
keunikan tersebut, guru sebagai pendidik bertindak sebagai fasilitator dalam
memahamkan materi kepada murid dan memfasilitasi agar semua murid mampu memproses
ide atau informasi yang diperolehnya serta mampu mengembangkan suatu produk
sesuai dengan kemampuan muridnya masing-masing. Untuk itu, pada pembelajaran
berdiferensiasi, perlu persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat dari
guru baik meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi
produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak
hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan
konten/materi. Metode ini dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Sebagai
contoh, dalam pemeblajaran PPKn Kelas IX SMP dengan Materi
Konsep Cinta Tanah Air/Bela Negara dalam Konteks Negara Kesatuan Republik
Indonesia melalui pendekatan
pembelajaran berdiferensiasi. Dalam pembelajaran ini murid saya
minta melakukan Praktik Kewarganegaraan dengan tema “Bela Negara di Masa
Pandemi”.
Dasar pemetaan kebutuhan belajar
murid dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi meliputi tiga hal, yaitu:
1. Kesiapan Belajar Murid
Sebelum mempelajari materi atau
topik, guru perlu memetakan kebutuhan murid. Dalam hal ini, guru harus
mendiagnosa kesiapan belajar murid. Misalnya, pada diferensiasi konten, ada
murid yang sudah siap mempelajari materi yang di dalamnya terdapat masalah berupa
tantangan atau kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Ada juga murid
yang mungkin masih perlu mempelajari hal-hal yang mendasar dalam memahami
materi. Tentunya, perbedaan kognitif dari murid membantu guru untuk
mempersiapkan bahan ajar, cara atau strategi yang dapat mengakomodir kebutuhan
tersebut dalam pembelajaran. Jumlah bantuan atau dukungan yang diberikan guru
kepada murid menyesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid itu sendiri.
2. Minat Belajar Murid
Hal lain yang perlu dilakukan
sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru perlu memetakan
murid berdasarkan minat belajarnya. Sebagai contoh, ada murid yang senang
belajar seni, olah raga, sains atau bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini, guru
harus siap untuk memfasilitasi kebutuhan murid tersebut. Guru dapat memberikan
pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya, misalnya dalam
menghasilkan produk. Dalam diferensiasi produk, murid menghasilkan produk
sebagai bentuk pencapaian tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan minat
belajar murid masing-masing. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Murid
bebas menghasilkan produk baik berupa teks atau tulisan seperti artikel,
narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat belajarnya seperti
audio, video, poster, mind mapping dan lainnya baik secara individu
maupun secara berkelompok selama produk tersebut merujuk pada indikator atau
standarisasi minimum penilaian.
3. Profil Belajar Murid
Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan
profil belajar murid lebih kepada bagaimana murid belajar sesuai dengan gaya
belajarnya yang beragam atau bervariasi. Misalnya pada diferensiasi proses,
untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran
guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa gambar-gambar,
tampilan slide power point, grafik dan sebagainya yang membantu murid
dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan
kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar
auditori maka guru dapat memberikan materi menggunakan atau diiringi dengan
musik.
Dengan ketiga dasar pemetaan
tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik
agar tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu mengakomodir segala
perbedaan dari murid, apa yang dibutuhkan oleh murid dalam belajar dan apa yang
dapat dilakukan oleh murid terhadap pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya serta bagaimana guru dapat merespon seluruh kebutuhan belajar murid
yang berbeda tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru
harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran
atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
Namun, dalam melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus
dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan moda, usaha dan waktu
yang digunakan.
Melaksanakan pembelajaran
berdiferensiasi dengan efektif dan efisien juga dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Sebagai guru, tentu memiliki peran yang sangat penting dalam
menciptakan atmosfer lingkungan belajar yang memungkinkan murid untuk berada
dalam kondisi jauh dari rasa takut, berani dan tampil percaya diri dalam
mengungkapkan ide atau pendapat, senang dalam berkolaborasi, berpartisipasi
aktif dalam diskusi, menyukai tantangan atau hal-hal baru sehingga murid
mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Dalam hal ini, berbagai
pendekatan dilakukan oleh guru terhadap konten, proses dan produk dalam
pembelajaran berdiferensiasi untuk menumbuhkan motivasi murid agar menjadi
pembelajar sepanjang hayat. Demikian pula, umpan balik, evaluasi dan refleksi
secara kontinyu juga terus dilakukan agar guru pun menjadi pembelajar sepanjang
hayat. Jika pembelajaran berdiferensiasi ini dilakukan dengan efektif dan
efisien maka semua murid akan merasa aman dan nyaman dalam belajar serta
pemenuhan kebutuhan murid dapat terwujud, tidak akan ada murid yang merasa
diistimewakan atau sebaliknya. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini
juga akan memberikan kemudahan bagi guru dalam memetakan dan mengakomodir
seluruh kebutuhan murid untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan
dan perubahan zaman yang selalu berubah.
B.
Mengapa Pembelajaran Diferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru
yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat
tersebut adalah yang terkait dengan:
- Kurikulum yang memiliki tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya
guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
- Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan
belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran
untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu
menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta
penilaian yang berbeda.
- Bagaimana mereka
menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk
belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang
tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan
selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
- Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru
menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya
fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin
melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara
efektif.
- Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut
menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang
telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan,
atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar
yang ditetapkan.
Pembelajaran berdiferensiasi disusun
karena ada harapan bagi pertumbuhan murid. Murid dapat tumbuh semaksimal
mungkin karena diberikan kesempatan berkembang sesuai dengan kemampuan murid.
Melalui pembelajaran berdiferensiasi
guru diberikan kepercayaan mencatat perkembangan murid sehingga dapat melakukan
pendekatan sebab guru mengajar bertujuan murid mencapai kesuksesan. Dengan
demikian guru berperan aktif dalam membentuk lingkungan atau atmosfer belajar
yang positif untuk setiap murid.
C.
Langkah-langkah Pembelajaran
Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan
kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar
tersebut. Oleh karena itu Pembelajaran
berdiferensasi seharusnya mengikuti langkah-langkah sistematis yaitu:
(Memetakan Kebutuhan Belajar Murid, Minat Murid, dan Profil Belajar Murid)
1. Mengidentifikasi
atau Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang
berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat
mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
a. Kesiapan
Belajar
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk
mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan
murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan
lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat
menguasai materi baru tersebut.
Ada banyak cara untuk membedakan
kesiapan belajar. Tomlinson (2001: 46) mengatakan bahwa merancang pembelajaran
berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada
stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya Anda
akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih
dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai
kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis
kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda.
Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa
perspektif yang dapat kita gunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid.
Dalam modul ini, kita hanya akan membahas 6 perspektif dari beberapa contoh
perspektif yang terdapat dalam Equalizer yang
diperkenalkan oleh Tomlinson (2001: 47).
Tombol-tombol dalam equalizer
mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan
tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari
beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang
disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).
1)
Bersifat
mendasar - Bersifat transformative
Saat
murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, yang mungkin belum
dikuasainya, mereka akan membutuhkan informasi pendukung yang jelas,
sederhana, dan tidak bertele-tele untuk dapat memahami ide
tersebut. Mereka juga akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide-ide
tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan bahan-bahan materi dan
tugas-tugas yang bersifat mendasar serta disajikan dengan cara yang membantu
mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Sebaliknya, saat murid
dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka kuasai dan pahami, tentunya mereka
membutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat
bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan
pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih
bersifat transformatif.
2) Konkret – Abstrak
Di lain kesempatan, guru mungkin
dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di
tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari
sesuatu yang lebih abstrak.
3) Sederhana - Kompleks
Beberapa murid mungkin perlu bekerja
dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu, yang lain
mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi pada satu waktu.
4) Terstruktur - Open Ended
Kadang-kadang murid perlu
menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka
tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain
murid mungkin siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.
5) Tergantung (dependent) - Mandiri
(Independent)
Walaupun pada akhirnya kita
mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir, dan menghasilkan
pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak
akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain,
beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada
yang lain.
6) Lambat – Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang
baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi
yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid
yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk
mempelajari topik yang lain.
Perlu diingat bahwa kesiapan belajar
murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada
informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat
ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan
diajarkan. Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan
kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk
memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan
murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook,
2013: 29).
b.
Minat Murid
Minat merupakan suatu keadaan mental
yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang
menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
Tomlinson (2001: 53), mengatakan
bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah
sebagai berikut:
·
membantu
murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri
untuk belajar;
·
mendemonstrasikan
keterhubungan antar semua pembelajaran;
·
menggunakan
keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide
atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
·
meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
Minat sebenarnya dapat kita lihat
dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional. Dalam
perspektif ini, minat merupakan keadaan psikologis yang dicirikan oleh
peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang dialami pada saat tertentu.
Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang gurunya berbicara tentang topik
hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai topik tentang hewan tersebut,
karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat menghibur, menarik
dan menggunakan berbagai alat bantu visual. Yang kedua, minat
juga dapat dilihat sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam
jangka waktu lama dengan objek atau topik tertentu. Minat ini disebut juga
dengan minat individu. Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan,
maka ia akan tetap tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat
itu guru yang mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik
atau menghibur.
Karena minat adalah salah satu
motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses
pembelajaran, maka memahami kedua perspektif tentang minat di atas akan membantu
guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau
menarik minat murid-muridnya dalam belajar.
c.
Profil Belajar
Murid
Profil Belajar mengacu pada
cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi
atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk
memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien.
Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung
memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita
sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar
sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat
memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.
Profil belajar murid terkait dengan
banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
·
Preferensi
terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat
kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak
terstruktur, dsb.
Contohnya: mungkin ada anak yang
tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu
terang, dsb.
·
Pengaruh
Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
·
Preferensi
gaya belajar.
Gaya belajar adalah bagaimana murid
memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara
umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
1. visual: belajar dengan melihat
(misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point,
catatan, peta, graphic organizer );
2. auditori: belajar dengan mendengar
(misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan
pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
3. kinestetik: belajar sambil melakukan
(misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka
penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan kombinasi gaya mengajar.
·
Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences): visual-spasial,
musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal,
verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika.
2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdiferensiasi merupakan rencana pembelajaran yang
berlandaskan hasil pemetaan profil belajar siswa. Jadi, memang pada dasarnya
isi dari RPP ini ada perbedaan dengan pada umumnya.
Berdiferensiasi sendiri artinya
beragam. Jadi RPP itu tidak untuk semua siswa, namun disesuaikan dengan
pemetaan profil siswa. Sebelum
membuat RPP berdiferensiasi, Anda perlu tahu terlebih dahulu beberapa aspek
yang menentukan ada keragaman di dalamnya.
Perbedaannya dengan RPP Kurikulum
2013 adalah dari konten, proses, dan juga produk pembelajaran.
Ada beberapa aspek penting yang
perlu guru perhatikan sebelum membuat RPP Berdiferensiasi, di antaranya guru
melakukan pemetaan profil siswa, analisis KI dan KD, memilih materi yang
digunakan, menyusun jenis diferensiasi (entah itu konten, proses, atau produk
pembelajaran), menentukan alat atau media yang digunakan dan terakhir
menyiapkan bahan untuk evaluasi.
Penyusunan Rencana Pembelajaran Berdeferensiasi mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Melakukan kebutuhan belajar murid.
b. Menganalisis silabus dan mengkaji KI
dan KD.
c. Menentukan materi pokok.
d. Merumuskan IPK.
e. Menentukan jenis diferensiasi yang
akan diakomodir dalam RPP (konten, proses, produk pembelajaran)
f.
Memilih
sumber / media pembelajaran.
g.
Menentukan jenis penilaian.
3.
Refleksi dan Tindak Lanjut
Refleksi memiliki arti sebagai introspeksi,
kontemplasi atau merenung. Ini menjadikan refleksi pada sebuah
pembelajaran merupakan proses penggalian siswa dan guru, apakah aktivitas
pembelajaran sudah ideal atau belum. Dalam praktiknya siswa didorong untuk bisa
mengungkapkan kegelisahan, beban dan kekurangan dari proses pembelajaran.
Termasuk mengekspresikan halangan dan kesulitan mereka dalam menyerap materi
pelajaran.
Refleksi
pembelajaran adalah tentang bagaimana siswa bisa menjadi sadar dengan proses
berpikir mereka sendiri dan bisa terbuka kepada orang lain. Dengan refleksi
siswa bisa menilai mengenai “bagaimana’ dan “mengapa” sebuah pembelajaran bisa
berlangsung, dan mengerti apa yang harus dilakukan setelah pembelajaran selesai.
Ketika siswa dan guru secara
konsisten mengadakan refleksi, mereka akan mendapatkan dampak, diantaranya
adalah:
·
Memahami dan mengetahui maksud dari
apa yang telah dipelajari.
·
Bisa mengerti apa yang dilakukan.
·
Paham apa yang harus dilakukan
selanjutnya.
·
Mengerti budaya belajar yang ada di
kelas.
·
Mengetahui proses pembelajaran.
Hasil dari
refleksi ini akam menjadi bahan pertimbangan dari guru untuk menentukan langkah
berikutnya/tindak lanjut untuk menyusun dan melaksanakan Rencana Pembelajaran.
D.
Kesimpulan
Pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction) merupakan
sebuah proses untuk pengajaran yang efektif dengan memberikan beragam cara
untuk memahami informasi baru untuk semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya.
Pembelajaran ini dilakukan dengan beraneka ragam, termasuk cara untuk :
- Mendapatkan
konten;
- Mengolah,
membangun, atau menalar gagasan; dan
- Mengembangkan
produk pembelajaran dan ukuran penilaian.
Tujuan dari
pembelajaran berdiferensisasi ini adalah agar siswa di dalam suatu ruang
kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan
efektif.
Proses
mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya,
atau minat belajar dari masing-masing siswa.
Dalam menerapkan
pembelajaran Berdiferensiasi, Guru hendaknya mampu menyajikan pembelaajaran
yang sesuai dengan kebutuhan Siswa. Namun, setiap orang yang terlibat harus
mengambil tanggung jawab masing-masing. Guru dan murid harus bekerja sama untuk
kesuksesan bersama dan tercapainya tujuan belajar yang sudah ditentukan
sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar