LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF


LAPORAN
SOSIALISASI DAN AKSI NYATA PENERAPAN BUDAYA POSITIF

KOMUNIKASI, KOORDINASI, DAN KOLABORASI DALAM PENGEMBANGAN KEMITRAAN SEKOLAH DAN ORANG TUA

A.    Latar Belakang

Sekolah nyaman merupakan idaman bagi setiap orang khususnya siswa dalam melakukan aktivitas belajar. Siswa merasa nyaman ketika apa yang menjadi keinginan dan harapannya terpenuhi, apa yang menjadi potensi dirinya dapat berkembang sebagaimana mesthinya. Apabila sekolah ingin menciptakan kenyamanan bagi siswa harus dapat memberikan kemerdekaan untuk hidup dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Sekolah harus mampu menghadirkan kondisi terhadap siswa yang terhindar dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan terhadap warga sekolah khususnya siswa. Sekolah tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan suasana yang penuh dengan kehamonisan dan pembiasaan positif.

Dalam perkembangan pendidikan pada masa pandemi seperti sekarang ini sekolah perlu memberikan keleluasaan kepada siswa. Banyak siswa masih terkekang dengan budaya negative. Siswa tertib atau tidak melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah karena kawatir dikucilkan, takut menerima sanksi, takut nilainya tidak bagus, atau akibat-akibat buruk yang lain. Hal ini berakibat siswa melakukan sesuatu yang baik hanya saat di sekolah, atau saat di depan orang lain khususnya guru. Keteraturan, ktertiban dan berbagai perbuatan baik siswa bukanlah merupakan suatu kebiasaan tetapi lebih disebabkan karena ketakutan dan mencari perhatian. 

Oleh karena itu sekolah perlu menciptakan iklim pendidikan yang mampu menjadikan siswa dan seluruh warga sekolah melakukan budaya positif.  Sesuatu yang menjadi budaya akan menakar kuat dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan secara terus menerusa dan sadar bukan karena keterpaksaan. Segenap pihak harus terlibat dan merasa bertanggung jawab dalam melakukan pembiasaan positif. Pembiasaan positif ini akan menjadi budaya sekolah, di mana seluruh warga sekolah memiliki komitmen yang kuat untuk melaksanakannya. Budaya positif terseut harus  terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah, baik dalam pembelajaran, maupun non pembelajaran (termasuk ekstrakurikuler). Pertanyaannya adalah bagaimana mengembangkan budaya positif agar dapat tumbuh dan tertanam dalam kehidupan sekolah? Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap peserta didik, maka secara tercipta profil pelajar Pancasila.

Dalam membangun ataupun mengembangkan budaya positif, sekolah dapat menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar siswa mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Untuk itu, sekolah perlu untuk melibatkan orangtua dalam proses pendidikan. Ketika sekolah dan orang tua siswa bekerja bersama, siswa memiliki kesempatan jauh lebih baik untuk tidak hanya sukses di sekolah tetapi juga sukses dalam kehidupan. Untuk mengembangkan kemitraan sekolah dan orang tua, perlu adanya komunikasi, koordinasi dan kolaborasi dalam merancang, melaksanakan, serta memantau aktivitas siswa.

 

B.     Dasar Pemikiran

Terwujudnya Visi Sekolah erat kaitannya bagaimana pemangku kepentingan yaitu seluruh warga sekolah bersinergi untuk saling menguatkan dan menumbuhkan karakter baik (positif) melalui berbagai aktivitas yang dilakukan. Keterlibatan seluruh warga sekolah tersebut adalah mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan terhadap aktivitas tersebut. Melalui aksi ini, diharapkan tumbuh dan berkembang pembiasaan-pembiasaan positif  yang pada akhirnya menjadi sebuah budaya yang mampu mendukung terwujudnya visi sekolah.

Jika pembiasaan sudah menjadi membudaya, dan menjadi karakter individunya dalam sebuah institusi sekolah maka akan dengan mudahnya visi sekolah diciptakan. Begitu juga materi pada modul sebelumnya dimana nilai-nilai dan peran guru yaitu pembelajaran berpusat pada murid, dengan kolaborasi, refleksi, guru akan mudah berinovasi dan kemandirian belajar menjadi sebuah keniscayaan jika karakter guru nya kuat. Mengapa harus berpusat pada murid, karena sesuai dengan refleksi filosofi pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pembelajaran dengan sistem among. Guru sebagai fasilitator di depan menjadi contoh, di tengah sebagai penyemangat dan di belakang menjadi pendorong demi majunya sebuah Pendidikan yang bermula dan berpusat pada kebutuhan murid.

Bagaimana menumbuhkan budaya positif di sekolah, sehingga menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi sekolah?. Sekolah adalah miniatur dari bangsa. Bangsa yang berbudi pekerti baik serta berdisiplin positif bermula dari bangku-bangku di sekolah. Sehingga bagaimana menumbuhkan budaya positif adalah bermula dari kegiatan belajar mengajar di kelas dan upaya guru berinteraksi dengan murid.

Bagaimana mewujudkan dan mengembangkan budaya positif bisa dimulai? Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan mengembangkan kemitraan sekolah dan orang tua melelui peningkatan efektifitas komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi.

Membangun komunikasi antara orang tua dan sekolah merupakan landasan bagi terciptanya iklim budaya positif di sekolah dalam rangka menyusun rencana pengembangan sekolah. Hasil dari komunikasi antara sekolah dan orang tua menjadi bahan masukan dalam sekolah melakukan koordinasi untuk penyusunan kebijakan dan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Demikian secara tidak langsung orang tua/wali siswa memiliki andil dalam penyusunan kebijakan dan kegiatan sekolah. Yang dengan ini pula berarti telah terwujud kolaborai antara sekolah dan orang tua dalam penentuan kebijakan dan perencanaan kegiatan. Hal ini menunjukkan adanya kemitraan antara sekolah dan orang tua/wali siswa yang pada gilirannya hasil dari semua itu akan membawa manfaat bagi siswa.

 

C.    Dekripsi Aksi Nyata

1.      Persiapan

Persiapan yang dilakukan dalam aksi nyata dengan menyusun rencana kegiatan mulai dari melakukan konsultasi, penyusunan jadwal kegiatan (Linimasi) termasuk di dalamnya melakukan komunikasi dengan rekan sejawat serta berkolaborasi dengan sesama Calon Guru Penggerak di SMP Negeri 1 Muntilan.

Pada saat persiapan ini membuat kesepakatan untuk melaksanakan Sosialisasi Budaya Positif di sekolah (Modul 1.4 Budaya Positif).

 

 

2.      Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan melakukan diseminasi atau sosialisasi dengan seluruh guru dan karyawan hingga orang tua. Sosialsiasi kepada orang tua dilakukan pada saat sekolah melakukan kegiatan Sosialisasi Pembelajaran Tatap Muka 100% Terbatas dan Pembagian raport (laporan hasil belajar) semester Gasal. Secara lebih rinci pelaksanaan Aksi Nyata ini dapat dilihat dalam uraian berikut:

a.      Komunikasi

Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, ditempat pekerjaan, dipasar, dalam masyarakat atau dimana saja manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak akan terlibat dalam komunikasi. Komunikasi sangat penting bagi kehidupan manusia. Berkembangnya pengetahuan manusia dari hari ke hari karena komunikasi. Komunikasi juga membentuk sistem sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, maka dari itu komunikasi dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Komunikasi antara sekolah sebagai lembaga jasa pendidikan dengan siswa, orang tua dan masyarakat sebagai pengguna jasa sangat penting artinya dalam membangun budaya positif pendidikan. Melalui komunikasi yang efektif akan terbangun satu sistem yang akan menunjang terwujudnya budaya positif sekolah yang pada gilirannya dapat mendukung tercapainya visi, misi, dan tujuan sekolah yang diharapkan.

Aksi nyata melalui aktivitas komunikasi dilakukan melalui kegiatan sosialisasi budaya positif dengan guru dan karyawan dan juga orang tua/wali siswa.

Gambar : Apel Pagi Guru dan Karyawan untuk megkomunikasikan berbagai kegiatan sekolah yang akan dilaksanakan

 

 

Gambar : Pelaksanaan Diseminasi Modul 1.4 Budaya Positif di Sekolah oleh Calon Guru Peggerak  kepada Guru dan Karyawan

Sosialisasi (Diseminasi) Budaya positif hingga apel setiap pagi guru dan karyawan sebagai salah satu bentuk menjalin komunikasi diantara warga sekolah dalam rangka membangun budaya positif sekolah.

 

Komunikasi sekolah dengan orang tua untuk mengembangkan kemitraan sekolah dan orang tua dalam rangka mewujudkan budaya positif di sekolah. Komunikasi dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas seperti Sosialisasi Progarm Kegiatan Sekolah baik seara daring atau langsung tatap Muka, Informasi melalui Group WA Paguyuban, Surat tertulis ataupun

 

 

Komunikasi sekolah dengan orang tua terjalin juga melalui Media Sosial dengan memanfaatkan Group WA Paguyuban Kelas.

b.   Koordinasi

Istilah koordinasi sering kali digunakan dalam segala kegiatan dengan melibatkan beberapa orang, kelompok, ataupun tim. Dengan adanya koordinasi, maka sebuah tim atau kelompok tersebut dapat mencapai tujuan bersama dengan baik.

Koordinasi adalah proses pengaturan, memadukan atau pengintegrasian kepentingan bersama untuk mencapai tujuan bersama secara efesien dan efektif. Secara etimologis, koordinasi adalah kegiatan menertibkan, mengatur atau menciptakan seluruh hal berjalan dengan lancar secara bersama-sama.

Sederhanya, pengertian koordinasi adalah suatu tindakan pengaturan elemen-elemen yang sangat kompleks agar semuanya bisa terintegrasi dan bisa bekerjasama secara efektif dan harmonis. Sedangkan dalam ilmu manajemen, pengertian dari koordinasi adalah berbagai aktivitas yang dikerjakan dengan tujuan untuk mengintegrasikan tujuan serta rencana kerja yang sebelumnya sudah ditetapkan dalam semua unsur.

Gambar : Suasana Rapat Koordinasi Kepala Sekolah dengan segenap Guru dan karyawan dalam rangka mengkoordinasikan kegiatan sekolah yang akan (perencanaan), sedang, dan telah dilaksanakan (evalausi)

Rapat koordinasi seluruh komponen (Stakeholder) dalam ranka penyusunan Rencana Kerja Sekolah

Koordinasi Guru dan Karyawan selain sebagai bentuk komunikasi diantara guru dan karyawan juga merupakan tindak lanjut dari hasil komunikasi antara seluruh stake holder sekolah dalam rangka penentuan dan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan serta kebijakan sekolah.

Sementara untuk orang tua/wali siswa, SMP Negeri 1 Muntilan di setiap kelas terbentuk Paguyuban kelas yang sangat penting perannya dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah. Melalui paguyuban orang tua/wali siswa melakukan koordinasi membahas perkembangan siswa yang kemudian hasil pembahasan tersebut diajukan kepada sekolah sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dan kegiatan sekolah.

Paguyuban orang tua siswa merupakan suatu kelompok sosial atau organisasi yang anggotanya adalah orang tua wali siswa yang dibentuk dengan tujuan untuk memajukan pendidikan dan menyumbangkan buah pikiran dan tenaganya daalm rangka kemajuan pendidikan di sekolah.

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, peran orang tua sangat vital dalam mengkomunikasikan kondisi nyata perkembangan anak-anak kepada sekolah. Keterbukaan dalam memberikan infomasi yang sebenarnya sangat penting artinya bagi sekolah untuk kepentingan pembinaan siswa di sekolah.

Rapat pembentukan Paguyuban kelas

 

c.    Kolaborasi

Kolaborasi adalah proses bekerja sama untuk menelurkan gagasan atau ide dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama menuju visi bersama. Di sebuah organisasi yang saling tergantung, kolaborasi menjadi kunci pemikiran kreatif. Kolaborasi itu penting untuk mencapai hasil terbaik saat menyelesaikan masalah yang rumit. Agar kolaborasi dapat berhasil, diharuskan untuk mengidentifikasi kapan dan bagaimana berkolaborasi. Hal ini bisa dicapai dengan berlatih. Begitu pula pemahaman tentang mitra kerja sama. Dibutuhkan pemahaman dan penghargaan pada keahlian, kompetensi serta karakter orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan kolaborasi yang tertinggi dapat diraih ketika kolaborasi itu melibatkan orang-orang dengan beragam gaya kerja, nilai-nilai, budaya, pendidikan dan latar belakang pekerjaan yang berlainan. Orang-orang tersebut akan menghadirkan pemikiran yang benar-benar berbeda dan akibatnya suatu persoalan akan ditangani dari berbagai segi. Akan tetapi, agar kolaborasi di level ini bisa berjalan efektif, dibutuhkan kepercayaan dan rasa saling menghormati.

Dalam aksi ini, Calon Guru Penggerak SMP Negeri 1 Muntilan yang terdiri dari 5 orang guru melakukan kolaborasi dalam kegiatan sosialisasi Budaya Positif kepada guru dan karyawan pada hari Sabtu, 15 Januari 2022.

Kolaborasi Calon Guru Penggerak dalam melaksanakan Sosialisasi

(Diseminasi Budaya Positif di Sekolah)

 

Sedangkan bersama orang tua, di setiap kelas setelah terlaksananya sosialisasi dimulai dengan dibentuknya kepengurusan Paguyuban (Orang tua/wali siswa) di setiap Kelas. Melalui paguyuban ini sekolah akan meningkatkan hubungan kemitraan dalam mewujudkan budaya positif di sekolah.

D.    Tolok Ukur Keberhasilan Aksi

1.      Terlaksananya Sosialisasi Budaya positif kepada guru, karyawan dan orang tua/wali siswa.

2.      Terjalinnya komunikasi yang efektif antara sekolah dan orang tua/wali siswa baik secara langsung melalui pertemuan tatap muka ataupun secara daring, dan juga melalui media sosial yang ada (WAG/Gorup WA)

3.      Koordinasi yang efektif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan sekolah.

4.      Keterlibatan orang tua/wali siswa yang semakin meningkat dalam kegiatan sekolah.

5.      Terciptanya kemitraan sekolah dan orangtua/wali siswa dalam berbagai bentuk kegiatan.

 

E.       Refleksi dan Tindak Lanjut

1.      Refleksi

Sambutan positif diberikan dari semua guru dan karyawan SMP Negeri 1 Muntilan yang berkomitmen untuk mewujudkan Budaya Positif sekolah. Komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi sangat penting artinya dalam upaya mengembangkan kemitraan antara sekolah dan orang tua. Hal ini mengingat bahwa sebuah budaya tidak mungkin dapat berkembang secara baik apabila tidak melibatkan seluruh komponen atau pihak yang terkait dalam setiap aktivitas yang dilaksanakan.

Sekolah dan orang tua perlu, bahkan harus memperkuat kemitraan dalam rangka mewujudkan Budaya Positif di Sekolah guna mewujudkan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah.

 

2.      Tindak Lanjut

Rancangan aksi nyata ini akan diteruskan dikembangkan dan ditingkatkan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan sekolah.

a.        Komunikasi efektif dengan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kemitraan sekolah dan orang tua/wali siswa yang diharapkan mendukung terwujudnya visi sekolah.

b.       Koordinasi terus ditingkatkan dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi setiap kegiatan sekolah sehingga tercipta sistem yang kuat di sekolah.

c.        Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam berbagai aktivitas/kegiatan sekolah sehingga tercipta kemitraan yang kuat una mendukung terwujudnya visi, misi, dan tujuan  sekolah.

Aksi ini juga akan ditingkatkan dan dikembangkan dengan memperluas jaringan kemitraan budaya positif dengan komite sekolah dan Alumni guna mempekuat upaya terwwujudnya visi, misi dan tujuan sekolah.

F.     Dokumenasi

Gambar : Apel pagi Guru dan Karyawan SMP Negeri 1 Muntilan bisa dimanfaatkan sebagai ajang unuk mengkonumikasikan program-program sekolah dan informasi lainnya.

Termasuk di dalamnya adalah Penyampaian Informasi kegiatan sosialisasi Calon Guru Penggerak

Koordinasi (Rapat Dinas) Persiapan Kegiatan Sosialisasi kepada Guru, Karyawan dan Orang tua/wali Siswa

 

 

Sosialsiasi Budaya Positif yang dibarengkan dengan penerimaan Raport dan Sosialisasi PTM 100% dengan orang tua/wali siswa

 

Sosialisasi (Diseminasi) Budaya Positif secara panel oleh Calon Guru Penggerak SMPN 1 Muntilan kepada seluruh guru dan karyawan

 

Seluruh Guru – Karyawan SMP Negeri 1 Muntilan Berkomitmen

untuk Mewujudkan Budaya Positif Sekolah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 2.3 COACHING MODEL TIRTA ALTERNATIF SOLUSI MEMECAHKAN MASALAH

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 3.1